Lalu, Suhirman merupakan salah satu perajin kurungan burung merpati dari Desa Rarang, Kecamatan Terara, Lombok Timur (Lotim).
Pekerjaan ini menjadi satu-satunya pekerjaan yang bisa diandalkan untuk menghidupi keluarganya.
----------------------------
Rumahnya tepat di ujung jalan perkampungan yang berada di sebelah utara Kantor Desa Rarang, Kecamatan Terara, Lombok Timur (Lotim) itu.
Bentuknya sangat sederhana, dengan tumpukan bambu yang telah dibelah tersusun dengan rapi di bagian samping.
Beberapa bambu terlihat sudah dibelah seukuran sapu lidi. Di teras depan rumah, pria paruh baya sang empunya rumah tengah sibuk meraut bambu-bambu kecil yang telah dibelah.
Anyaman itu hendak dibuan menjadi kurungan burung merpati.
Tangannya terlihat cekatan merakit anyaman. sudah hafal dengan jalannya anyaman itu. Dialah Lalu Suhirman, perajin kurungan burung merpati asal Desa Rarang.
Profesi itu telah dilakoni sejak puluhan tahun lalu, bahkan sejak dirinya masih muda.
Ilmu itu didapatkan langsung dari sang kakak yang juga seorang perajin kurungan burung merpati.
Pekerjaan ini menjadi satu-satunya yang diandalkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama sang istri dan tiga orang anaknya.
“Tidak ada yang lain, pekerjaan ini sudah menjadi pekerjaan tetap saya. Ingin sih bertani tetapi tidak punya sawah. Mau berjualan yang lain, tidak punya modal. Dari pada menganggur ,” terang Lalu Suhirman, saat ditemui di rumahnya di Dusun Repok Payung Desa Rarang Kecamatan Terara, Minggu (16/2).
Kata dia, modal yang dimiliki sangat terbatas, sehingga ia tidak bisa memproduksi lebih banyak. Dalam sehari dirinya hanya bisa membuat dua buah kurungan paling banyak.
Setiap pekan dia hanya bisa menjual maksimal 10 biji kurungan.
Kurungan tersebut dijual ke pasar-pasar tradisional di Lotim dengan harga Rp 40-45 ribu per biji. Dari hasil penjualan itu sebagian akan disisihkan unt modal dan sebagian lagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga.
“Seminggu kadang bisa hanya dapat Rp 450 ribu kadang juga kurang, tergantung rejeki saja. Memang tidak cukup sih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tetapi bagaimana lagi harus tetap kita syukuri,” imbuhnya.
Minimnya modal, membuatnya kadang harus libur produksi.
Mengingat modal yang dimiliki tidak jarang habis digunakan untuk membeli kebutuhan anak-anak.
Terlebih salah seorang anaknya saat ini akan masuk perguruan tinggi. Sehingga modal yang dimiliki tidak bisa berputar dua kali.
Kata dia, jika modal habis dirinya terpaksa harus menganggur sampai terkumpulnya modal. Padahal permintaan kurungan merpati cukup banyak.
Bahkan permintaan tidak hanya dari Pulau Lombok namun juga sampai ke Pulau Sumbawa.
“Pernah kurim ke Sumbawa. Tetapi kalau sekarang hanya kirim di wilayah Lombok saja. Karena kekurangan modal sehingga tidak bisa produksi banyak,” ungkapnya.
Dirinya berharap, pemerintah bisa memberikan sentuhan modal bagi dirinya. Karena modal yang dimiliki saat ini cukup terbatas, agar usaha yang menjadi sumber pencahariannya itu bisa tetap berjalan.
Selain itu, dirinya juga berharap ada bimbingan dari dinas terkait, berupa pelatihan untuk membuat kerajinan jenis lain, agar bakat yang dimiliki bisa berkembang dan bisa meningkatkan perekonomian keluarga.
“Dengan modal saat ini saya hanya bisa beli empat buah bambu saja. Empat bambu itu hanya bisa membuat 12 kurungan. Mudah-mudahan dengan adanya bantuan modal, saya bisa membuat kurungan burung merpati lebih banyak lagi. Dan modal bisa diputar. Selama ini tidak pernah ada bantuan apa pun dari pemerintah” tutupnya. (Supardi/r6)
Editor : Kimda Farida