LombokPost–Bupati Lombok Timur (Lotim) H Haerul Warisin atau H Iron menegaskan tidak ada program 100 kerja di awal kepemimpinannya.
Menurutnya keberhasilan kepemimpinan tidak bisa diukur hanya dalam 100 hari pertama.
Karena kepemimpinan adalah proses jangka panjang yang membutuhkan waktu untuk membuktikan hasil nyata.
“Tidak ada istilah program 100 hari kerja. Yang jelas, kita akan mengukur kemampuan kerja kita dalam mengatasi persoalan yang mampu kita selesaikan dalam jangka waktu tiga bulan. Meski pun orang selalu menggunakan standar bahwa kepemimpinan diukur dalam 100 hari karena kita jadi bupati untuk lima tahun,” terang Bupati Lotim H Haerul Warisin saat konferensi pers seusai serah terima jabatan dan Paripurna DPRD dalam rangka pidato perdana bupati dan wakil bupati Lotim, Rabu (5/2).
Dalam kesempatan itu, ia juga meminta kepada masyarakat untuk tidak terlalu cepat menilai atau mengkritisi kebijakan yang baru diluncurkan.
Ia meminta agar program yang dibuat berjalan setidaknya satu Minggu, sebulan dua bulan terlebih dahulu, untuk membuktikan program yang telah dibuat bisa berjalan dengan baik.
Menurutnya setiap program membutuhkan waktu untuk diimplementasikan dan dievaluasi.
Jika setelah satu bulan program berjalan dan ternyata tidak mampu dilaksanakan oleh perangkat atau pembantu pemerintah.
Ia meminta masyarakat menyampaikannya dengan baik dan benar.
“Jangan terlalu cepat mengkritisi kebijakan yang baru sehari dilaksanakan. Kebiasaan ini jangan dibudayakan di Lotim. Silakan kabupaten atau provinsi lain seperti itu, tapi untuk Lotim, mari kita menjadi masyarakat yang arif dan bijaksana,” ungkapnya.
Ia menjelaskan ada lima misi utama yang akan dilakukan lima tahun ke depannya.
Yakni mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui penguatan desa dan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup.
Menuju Lotim sehat, cerdas, berkarakter dan Berbudaya. Serta membangun masyarakat yang berlandaskan iman dan takwa.
Misi selanjutnya ialah pembangunan infrastruktur dan lingkungan hidup.
Yang fokus pada energi, air, mitigasi bencana, serta pemerataan wilayah yang berkelanjutan.
Kemudian membuat tata kelola pemerintahan yang bersih dan profesional.
Dengan meningkatkan kualitas pelayanan publik dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas.
“Misi selanjutnya ialah meningkatkan kehidupan yang religius dan berakhlak mulia. Memelihara kerukunan, ketenteraman dan ketertiban berbasis keimanan. Kemudian mengoptimalkan teknologi untuk pelayanan publik yang lebih baik,” ungkapnya.
Sebagai langkah awal, untuk mewujudkan visi misi tersebut, Pemkab Lotim akan menyusun rencana kerja jangka menengah yang selaras dengan rencana pembangunan 20 tahunan, baik di tingkat nasional maupun provinsi.
Dalam kesempatan itu, ia juga berkomitmen untuk menyelesaikan berbagai masalah mendasar yang dihadapi masyarakat Lotim mulai dari masalah pupuk dan LPG subsidi.
Penetapan harga gabah sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Penanganan inflasi.
Peningkatan bantuan sosial.
Pembangunan infrastruktur kesehatan dan pendidikan dan Pemenuhan kebutuhan dasar lainnya.
“Kita semua harus bersatu untuk mewujudkan Lotim Smart. Mari kita bekerja sama memberikan yang terbaik bagi masyarakat Lotim. Pilkada telah usai saatnya kita bersatu mari kita lupakan masalah yang sudah berlalu,” ujarnya.
Dengan visi dan misi yang jelas, ia merasa optimis bahwa Lotim akan daerah yang lebih sejahtera, maju, adil, religius, dan transparan (SMART) serta mampu memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh masyarakatnya. (par/r6)
Editor : Prihadi Zoldic