Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ketika Ramadan Menghidupkan Kembali Jajanan Tradisional, Tetap Laris Manis di Tengah Gempuran Jajanan Modern

nur cahaya • Rabu, 12 Maret 2025 | 16:33 WIB

 

ANTRE: Sejumlah pembeli membeli jajanan tradisional untuk camilan berbuka puasa. Selasa (11/3).
ANTRE: Sejumlah pembeli membeli jajanan tradisional untuk camilan berbuka puasa. Selasa (11/3).
 

Popularitas jajanan tradisional Lombok kembali meningkat seiring hadirnya Ramadan.

Bahkan beberapa penjual menyajikan menu jajanan tradisional ini sebagai salah satu takjil untuk berbuka puasa.

-------------------------

Di atas meja sederhana, berbagai model jajanan tradisional ditata rapi, bersama daun pisang yang sudah dipotong kecil-kecil.

Parutan kelapa tua dan gula merah juga terlihat sudah siap di samping berbagai jajanan tradisional. Belum saja semua jajanan disiapkan di atas meja, sejumlah ibu-ibu mulai berdatangan. Membuat sang pedagang sedikit kewalahan melayani para pembeli.

Jajanan tradisional di bulan puasa memang menjadi salah satu makanan favorit untuk berbuka. Sehingga selama Ramadan ini pedagang jajanan tradisional seolah kecipratan berkah.

Salah satunya ialah Hurun, seorang pedagang jajanan tradisional asal Dusun Perenang, Desa Kabar, Kecamatan Sakra.

Setiap Ramadan ia tidak pernah absen  berjualan jajan tradisional di pinggir jalan dusun.

Meski hanya musiman namun hasilnya cukup membantu perekonomian keluarga.

Alhamdulillah setiap tahun saya selalu jualan. Dan setiap hari selalu habis terjual. Bahkan ada yang tidak sampai kebagian,” beber Hurun saat ditemui di sela-sela kesibukannya, Selasa (11/3).

Tangan Hurun terlihat begitu cekatan memotong-motong serabi, membentuk lingkaran kecil dengan ketebalan hampir sama antara potongan yang satu dengan yang lainnya.

Jajanan lupis yang telah dipotong, kemudian disusun di piring yang dilapisi bungkus nasi.  Tidak lupa ia taburi parutan kelapa dan dibaluri gula merah di atasnya.

Setiap hari, jajanan tradisional yang dibuat hanya beberapa model saja. Mulai dari jajanan serabi, cenil, keludan, abuk, ketan, lupis, lontong dan lainnya.

Setiap bulan puasa jajanan-jajanan ini menjadi makanan yang selalu diburu oleh masyarakat.

Kendati hanya sebatas jajan jadul namun tidak kalah dengan jajan kekinian.

Selain karena rasanya yang enak manis, pembuatan yang masih tradisional dan alami menjadi salah satu daya tarik.

“Kalau dibulan puasa selalu laris manis. Tidak kalah dengan jajanan anak-anak sekarang,” katanya.

Diceritakan, jajanan-jajanan itu ia buat sendiri.

Sejak pagi buta ia sudah mulai mempersiapkan bahan-bahan. Masing-masing jenis jajanan dibuat dengan jumlah yang berbeda-beda, berkisar antara 2-3,5 kilogram.

Biasanya para pembeli membeli mulai dari Rp 5-10 ribu dengan berbagai model.

“Banyak yang dari luar datang beli. Banyak juga yang jual jajanan ini. Mungkin dari segi rasa dinilai lebih enak, sehingga pembeli yang dari luar banyak ke sini,” katanya.

Biasanya ia mulai menjajakan dagangan pukul 16.00 Wita sampai dengan 18.00 Wita.

Dalam dua jam berjualan ia  bisa mendapatkan omzet Rp 350-450 ribu, bahkan lebih. Tergantung banyak tidaknya makanan yang dibuat.

Pada hari-hari biasa ia memilih bekerja menjadi buruh lepas. Itu lantaran peminat jajanan tradisional di hari-hari biasa juga kurang.

“Pernah beberapa kali saya coba untuk jualan pada hari biasa. Peminatnya sedikit, bahkan dagangan kadang tidak habis terjual, tidak seperti saat bulan puasa,” katanya. (Supardi/r6)

Editor : Kimda Farida
#terjual #ramadan #pembeli #kekinian #Pedagang #habis #berkah #jualan #jajanan #tradisional