Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

M Zulfiandi, Pelan tapi Pasti dan Kini Jadi Guru Lukis

nur cahaya • Senin, 21 April 2025 | 21:15 WIB

 

FOKUS: M Zulfiandi saat melukis seorang perempuan di sanggar Naluri miliknya, di Desa Aikmel Barat, Kecamatan Aikmel, Minggu (20/4).
FOKUS: M Zulfiandi saat melukis seorang perempuan di sanggar Naluri miliknya, di Desa Aikmel Barat, Kecamatan Aikmel, Minggu (20/4).
 

M Zulfiandi merupakan salah satu seniman lukis yang cukup terkenal di Lombok Timur. Saat ini ia adalah menjadi salah satu guru lukis yang cukup diakui.

-------------------------

Lukisan sosok perempuan muda setengah jadi masih dibiarkan begitu saja. Tampak sejumlah cat minyak dan beberapa kuas kecil di teras rumah itu. Beberapa lukisan dengan berbagi model juga terpajang di dinding teras. Menjadikan pemandangan di sekitar rumah menjadi klasik dan indah.

Di teras rumah sederhana inilah M Zulfiandi bekerja sebagai seorang pelukis. Di tempat yuang sama juga dia mengajarkan anak-anak dari berbagai kecamatan di Lombok Timur (Lotim) melukis.

Sanggar ini sekaligus menjadi sejarah perjalanan Zulfiandi sebagai seorang pelukis di Lotim. Sanggar Naluri yang beralamatkan di Dusun Pungkang Lauk, Desa Aikmel Barat ini hampir tidak pernah sepi dengan anak-anak yang belajar melukis setiap Minggu.

Awal dirinya menekuni seni lukis sekitar tahun 2012 lalu. Sejak itu dirinya aktif mengikuti berbagai pameran. Sebelumnya ia tidak memiliki pemahaman di bidang melukis sama sekali. Semuanya ia pelajari secara otodidak. “Tahun 2019 itu saya mulai kenal dengan pelukis-pelukis senior di Lotim. Salah satunya Pak Senin Apriadi dan Ibu Anah. Saya ngobrol-ngobrol dan melihat cara mereka melukis. Cuman begitu saja cara saya belajar,” ungkap M Zulfiandi, saat ditemui di rumahnya, Minggu (20/4).

Photo
Photo

Bahkan dirinya kerap mendatangi pelukis-pelukis di Lotim untuk belajar dan diskusi tentang lukisan. Dia juga banyak belajar dari pameran dan itu dilakukan selama bertahun-tahun. Hingga akhirnya bisa percaya diri untuk membuat sebuah karya.

Da mengenang momen awal belajar. Meski pun waktu itu masih belajar, namun dirinya sudah mulai mengajar melukis di salah satu TK di Kecamatan Sakra. “Saya diminta mengajar melukis oleh senior-senior saya di TK. Karena waktu itu, TK sangat aktif untuk mengikuti berbagai lomba mewarnai,” bebernya.

Kemudian tahun 2018 lalu, dirinya memutuskan untuk membuat sanggar seni lukis di rumahnya. Hal ini dilakukan untuk mengangkat seni lukis di Kecamatan Aikmel, khususnya di desa Aikmel Barat.

Dia merasa terdorong karena minat masyarakat terhadap seni lukis sangat minim. Seni lukis dianggap menjadi ilmu yang tidak bermanfaat dan menjadi pelukis dinilai tidak memiliki masa depan cerah. Bahkan hingga sampai saat ini masyarakat dari desa Aikmel sendiri masih kurang  tertarik dengan lukisan. “Sebagian besar yang datang belajar di sanggar seni ini merupakan anak-anak dari luar kecamatan,” katanya.

Sejauh ini sejumlah TK dan SD telah diajarkan untuk melukis di Lotim. Banyak anak-anak didiknya telah berhasil menyabet prestasi mewarnai.

Dijelaskan, lukisannya lebih kepada aliran surealis atau lukisan yang bercerita tentang gambar yang tidak ditemukan di dunia nyata. Seperti kuda menari dengan manusia, wayang berbicara dengan manusia, bunga di atas awan dan lainnya. “Sudah banyak yang terjual,” bebernya.

Meski demikian, peminat lukisan di Lotim terbilang masih sangat minim. Untung menggeliatkan seni tersebut, dirinya berharap pemerintah Lotim dapat memberikan dukungan bagi pelukis.

Salah satunya dengan memajang lukisan di tempat-tempat strategis di kantor-kantor dinas dan kantor bupati. “Jadi kalau ada tamu dari luar bisa dilihat dan mereka bisa tertarik kemudian bisa memesan lukisan,” pungkasnya. (Supardi/r6)

Editor : Prihadi Zoldic
#belajar #Guru #lukisan #peminat #pelukis #Lombok Timur #lukis