Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kisah H Sahdan Puluhan Tahun Berjualan Gula Gending, Mampu Berangkat Haji, Badan Tetap Sehat hingga Cucu S2

nur cahaya • Selasa, 27 Mei 2025 | 13:11 WIB

 

JUALAN: H Sahdan seorang penjual gula gending saat menjajakan dagangannya di lokasi Car Free Day (CFD), Minggu (25/5).
JUALAN: H Sahdan seorang penjual gula gending saat menjajakan dagangannya di lokasi Car Free Day (CFD), Minggu (25/5).
 

LombokPost -  Gula gending atau biasa dikenal dengan manisan rambut nenek merupakan manisan tradisional yang sudah ada sejak tahun 70-an.

Salah satu penjual gula gending antara lain H Sahdan, Warga Desa Kembang Kerang, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur (Lotim). 

Ratusan lapak sejak pagi buta telah jejer di sepanjang jalan Taman Rinjani Selong. Kala itu diselenggaranakn Car Free Day (CFD).

Baca Juga: Cerita HM Sahdan, Pedagang Gula Gending Asal Kembang Kerang Lotim

Dari puluhan lapak yang berjejer di kawasan CFD Taman Rinjani Selong, ada sosok laki-laki tua yang tengah mencari keuntungan.

Dia tampak berjalan membawa sebuah kotak yang terbuat dari aluminium. Dengan langkah pelan, ia memukul-mukul kotak itu layaknya sebuah alat musik, hingga mengeluarkan suara yang cukup menarik. 

Dialah H Sahdan seorang penjual gula gending atau manisan rambut nenek.

Baca Juga: Gule Gending yang Sukses Melintasi Zaman, Salah Satu Seni Pertunjukan Jalanan yang Tua dan Penjual Gule Gending Kerap Dianggap Intel

Manisan ini merupakan manisan yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu.

Meski tergolong manisan permen zaman dulu, namun tetap eksis dan laku di tengah gempuran makanan dan minuman modern saat ini.

”Saya sudah 43 tahun keliling berjalan kaki jualan gula gending. Hanya ini pekerjaan yang saya andalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama keluarga,” terang H Sahdan, Minggu (26/5).

Baca Juga: Modal Mulai dari Rp 3 Jutaan Sudah Bisa Jualan Seblak Prasmanan, Berikut Detailnya

Diceritakan sejak tahun 1982 ia sudah berkeliling berjualan gula gending. Saat ini ia telah menginjak usia 85 tahun.

Karena itu Sahdan sering diminta untuk berhenti berjualan oleh anak-anaknya.

Namun permintaan itu ia tolak dan tidak menyurutkan semangatnya untuk berkeliling menjajakan dagangannya.

Karena dia tidak ingin hanya berdiam diri di rumah.

Baca Juga: Harga Gula Naik, Pemerintah Lacak Penyebabnya!

"Malas saja berdiam di rumah dan bingung mau mengerjakan apa. Dengan berjalan kaki juga membuat kita lebih sehat, makanya masih tetap berjualan," ungkapnya.

Hasil menjual gula gending tidaklah banyak, bahkan cenderung tak disebutkan, jika sedang ramai per hari ia bisa mendapatkan antara Rp 200-250 ribu bahkan lebih.

Namun jika sedang sepi, membawa uang Rp 50 ribu per hari saja sudah untung.  

Baca Juga: PT SMS Bertekad Jadikan Dompu Sebagai Sentra Gula

Dengan pendapatan Rp 50 ribu ini, diakui tidak cukup untuk membeli bahan membuat gula gending lagi. Seperti gula, tepung terigu dan minyak kelapa.

Belum lagi dipotong ongkos pulang menggunakan kendaraan umum. Namun hal itu tetap ia syukuri dan dinilai sebagai dinamika sebagai pedagang.

"Alhamdulillah meski pun sedikit tetap kita syukuri. Sedikit maupun banyak itu sudah menjadi perjalanan dan sebagai lika-liku mencari rezeki. Alhamdulillah selain dapat uang juga dapat sehatnya juga," ujarnya.

Photo
Photo

Meski penempatannya tidak menentu, namun hasil berjualan selama ini cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama keluarga.

Bahkan dari hasil penjualan gula gending, ia berhasil menyisihkan sebagian untuk menyetor tabungan haji. 

Benar saja berkat kerja keras dan kesabarannya itu, ia mampu menunaikan ibadah haji pada tahun 2018 lalu. Hal ini yang menjadikannya semakin semangat dan menikmati pekerjaannya.

Jejaknya sebagai pedagang gula gending, kini juga diikuti oleh anaknya.

Bahkan anaknya berjualan gula gending hingga pulau seberang seperti Sumbawa, Bima dan Dompu.

Baginya sebagai penjual gula gending memberi banyak berkah keluarga. Hal ini lah yang selalu menguatkannya semangat tetap berjualan meski umur sudah tua.

Photo
Photo

Kini, dari hasil penjualan gula gending sang anak, cucunya bisa bersekolah hingga bangku listrik di salah satu perguruan tinggi di Bandung.

Sehingga hal itu menjadi kebanggaan tersendiri baginya. 

”Alhamdulillah Allah memberikan rezeki keluarga dari jualan ini,” disertai sedikit senyum di wajah keriputnya. (SUPARDI/r6)

Editor : Kimda Farida
#Haji #keluarga #rinjani #tabungan haji #Selong