Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Aipda Muhammad Munawar Bhabinkantibmas Merangkap Juru Sembelih, Potong Hewan Kurban dengan Cepat Sehari Sembelih Puluhan Ekor

Lombok Post Online • Selasa, 10 Juni 2025 | 12:49 WIB

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
 

Aipda Muhammad Munawar selain aktif menjadi Bhabinkamtibmas di Desa Aik Dewa, Kecamatan Pringgasela Lombok Timur (Lotim).

Muhammad Munawar juga anggota komunitas Juru Sembelih Halal (Juliha) Indonesia di Lotim.

Suara takbir dari Masjid Jami’atul Muttaqin Aik Dewa masih terdengar berkumandang.

Membuat suasana Idul Adha masih sangat terasa meski sudah satu hari berlalu. 

Sejumlah sapi dan beberapa ekor kambing kurban diikat di halaman masjid.

Beberapa orang terlihat menyiapkan hewan-hewan kurban untuk segera di sembelih.

Sementara sosok pria dengan tubuh kekar, dengan seragam polisi berdiri tepat di atas kepala sapi, dengan menyembunyikan sebilah pisau di belakangnya.

Setelah membaca doa, dalam hitungan detik leher seekor sapi sudah selesai disembelih.

Pria berseragam itu ialah Aipda Muhammad Munawar seorang Bhabinkamtibmas Desa Aik Dewa, Kecamatan Pringgasela.

Selain menjadi polisi yang aktif mengayomi masyarakat, ia juga menjadi salah satu anggota komunitas Juru Sembelih Halal (Juliha) Indonesia di Lotim.

“Awalnya dulu coba-coba untuk sembelih kambing di rumah saat ada acara aqikah, dan waktu itu belum masuk di Juliha, dan teknik yang saya gunakan itu juga sangat cepat,” terangnya Pria yang akrab disapa pak Mumun itu saat ditemui seusai menyembelih lima ekor sapi dan beberapa ekor kambing.

Diceritakan, ia bergabung di komunitas Juliha sejak dua tahun lalu, karena merasa prihatin dengan kondisi tukang sembelih  di sekitarnya sudah banyak yang tua, sehingga penyembelihan kurang optimal dilakukan.

Bahkan kemampuan para eksekutor tua ini memegang bilah sudah mulai berkurang.

Tidak jarang proses penyembelihan juga membutuhkan waktu yang cukup lama. Padahal semakin cepat proses menyembelih maka semakin bagus.

“Tidak jarang orang tua atau juru sembelih di masyarakat, menggunakan teknik gorok gaji, atau di gorok berkali-kali. Padahal itu tidak baik, itu membuat hewan kurban merasakan sakit yang cukup lama,” katanya.

Kehadiran Juliha di Lotim ini diharapkan dapat mencetak anggota yang lebih muda, sehingga lebih bertenaga  untuk menjadi eksekutor  dengan menggunakan teknik penyembelihan yang profesional, dan sesuai syariat Islam.

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post

Melalui komunitas ini, ia juga ingin mengubah pandangan masyarakat selama ini, bahwa penyembelihan tidak harus menggunakan berbagi ritual. Seperti membaluri hewan kurban menggunakan beras kuning (odak-odak) dan sebagainya.

“Dan seorang penyembelih tidak harus dilakukan oleh seorang kiyai, ustad atau tuan guru. Sebenarnya siapa saja bisa melakukannya. Asalkan sesuai syarat dan syariat Islam,” katanya.

Di komunitas ini, seorang eksekutor akan diberikan pelatihan cara menyembelih yang baik dan benar,  termasuk memilih bilah yang baik. Dan mengajarkan teknik khusus agar hewan kurban yang disembelih tidak terlalu stres saat disembelih.

Setelah diberikan materi dan praktik, seorang eksekutor juga diberikan sertifikat untuk bisa menyembelih. Rata-rata para anggota menyembelih hewan kurban hanya hitungan detik. Dengan waktu maksimal tiga detik.

“Saat menyembelih hanya hitungan detik, bahkan kurang satu detik. Tapi kadang banyak yang minta agar di lebih pelan. Makanya sekarang waktu penyembelihan kita atur sampai dua detik. Kelihatan pelan tapi cepat sebenarnya,” katanya.

Selain tidak terlalu menyakiti hewan kurban. Teknik ini juga diakui dapat menghilangkan bau amis pada hewan kurban. Terutama pada kambing. Karena salah satu penyebab bau amis pada kambing ialah hewan mengalami stres sebelum disembelih.

Semakin cepat dilakukan penyembelihan maka semakin kecil kemungkinan daging kambing akan mengeluarkan bau amis. Karena kambing tidak sempat mengeluarkan bau amis ketika akan disembelih.

“Kalau kepercayaan masyarakat kita, daging kambing yang bau itu dikaitkan dengan cara penyembelihan yang salah seperti tidak menutup ketiak, terlalu mengangkang dan lainnya. Padahal bau itu disebabkan oleh kambing yang terlalu stres,” ungkapnya.

Pisau yang digunakan didatangkan langsung Swiss dengan merek Victorynox. Bahkan asah yang digunakan untuk menajamkan mata pisau juga didatangkan dari luar negeri seperti Cina, Jepang, Amerika dan produk lokal yang bagus.

SEMBELIH: Aiptu Muhammad Munawar Bhabinkamtibmas Aik Dewa yang juga anggota Juru Sembelih Halal (Juleha) Indonesia di Lotim, Sabtu (7/6).
SEMBELIH: Aiptu Muhammad Munawar Bhabinkamtibmas Aik Dewa yang juga anggota Juru Sembelih Halal (Juleha) Indonesia di Lotim, Sabtu (7/6).

Menurutnya asah memiliki keunggulan masing-masing. Tidak hanya menggunakan produk luar negeri dengan harga yang cukup mahal.

Namun untuk menghasilkan mata pisau yang tajam, membutuhkan teknik khusus agar pisau cepat tajam dan tidak merusak asah maupun pisau sendiri.

“Saya juga pernah buka jasa mengasah pisau di rumah. Karena mengasah pisau tidak bisa dilakukan sembarang. Bahkan banyak yang mengasah tapi pisaunya tidak bisa tajam, hanya menjadikan pisau putih saja. Bahkan asahnya patah dan sebagainya,” imbuhnya.

Dengan teknik penyembelihan cepat dan didukung oleh pisau yang berkualitas, dalam sehari ia bisa menyembelih puluhan ekor per hari tanpa pisau di asah ulang.

“Kemarin 28 ekor saya sembelih, dan pisaunya tetap tajam. Alhamdulillah sekarang sudah ada beberapa anak-anak muda yang mulai tertarik untuk menjadi Juliha,” tutupnya. (SUPARDI/r6)

Editor : Siti Aeny Maryam
#Bhabinkantibmas #Polisi #profesional #Lotim #IDUL ADHA #komunitas