M Sabli Warga Desa Denggen Timur, Kecamatan Selong berhasil memanfaatkan pekarangan rumah yang terbatas jadi sumber Rupiah, dengan membuka usaha pembibitan.
Di tangan orang-orang kreatif lahan sempit pekarangan rumah bisa menjadi sumber penghasilan. Bahkan dari lahan sempit itu berhasil membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.
Hal itu dilakukan oleh M Sabli Warga Desa Denggen Timur, Kecamatan Selong yang menyulap pekarangan rumahnya untuk membuka usaha pembibitan. Mulai dari bibit cabai, tomat, terong, dan lainnya.
Baca Juga: Dompu dan Berau Jajaki Kerja Sama Pengembangan Ternak Sapi Dalam Penyediaan Bibit
Meski lahan tersebut sangat terbatas, namun tetap bisa menjadi sumber penghasilannya. Bahkan ia mampu memperkerjakan orang-orang di sekitar rumahnya.
"Dulu tanah ini bekas kandang kambing dan sapi. Dan sudah lama tidak dimanfaatkan dibiarkan terbengkalai begitu saja," terang M Sabli saat ditemui di tengah-tengah kesibukannya merawat bibit tanaman cabai miliknya, Selasa (10/6).
Usaha ini dikerjakan bermula karena bingung memanfaatkan lahan kosong di samping rumahnya tersebut.
Baca Juga: Pemdes Rembitan Keluhkan Jalan Menuju Persemaian Bibit Mandalika Rusak Parah
Sehingga dengan pengalaman bekerja di pembibitan, ia nekat untuk membuka usaha pembibitan, meski sempat terkendala modal.
Untuk memulai usaha tersebut, ia harus mencicil modal dari hasil bekerja di tempat lain dan sisa membeli kebutuhan pokok sehari-hari dan dibantu oleh adiknya.
"Kalau pembelian bahan untuk pembuatan green house ini dibantu sama adik. Saya buat sendiri karena kita tidak punya uang untuk membayar tukang. Saya kerjakan sendiri malam sepulang kerja," bebernya.
Baca Juga: Yayasan Hakam Seleksi Pemain Sepak Bola, Menyasar Bibit Pesepakbola KLU
Meski pun usaha pembibitan harta benda belum terlalu besar seperti orang-orang, namun omset yang didapat cukup besar.
Jika permintaan sedang ramai, dalam seminggu ia bisa mendapatkan Rp 2-3 juta. Namun jika sedang sepi, berkisar antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta.
Adapun harga bibit bervariasi. Untuk bibit cabai lokal dijual dengan harga Rp 150 ribu per empat trai atau per seribu biji bibit.
Sementara untuk cabai hijau dijual Rp 170 per empat trak. Sedangkan untuk tomat dijual dengan harga Rp 300 per empat trak. Terong 65 per trai.
"Tapi kadang pembayarannya tidak langsung kami terima. Karena petani bayarnya saat benih sudah ditanam. Jadi pendapatan kita itu tidak menuntu. Kalau Seandainya dibayar langsung, bisa kita dapat Rp 3-4 juta bahkan lebih dalan sekali pembenihan," katanya.
Pahit manis menjadi pengusaha benih telah dilalui. Seperti banyak benih yang tidak bisa tumbuh.
Sementara benih cabai yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan ke perusahaan, kemudian benih yang kerdil, dan benih sudah melebihi waktu tanam.
Namun, hal itu tidak membuatnya menyerah, justru dijadikan sebagai motivasi dan pelajaran.
Karena setiap pengguna memiliki risiko sendiri dan pasti ada untung dan rugi. Menurutnya seorang penguasa harus memiliki mental yang kuat.
“Di bisnis pembibitan ini kita harus berani mengambil risiko. Meski pun tidak ada yang pesan kita harus tetap menyemai. Jadi tidak perlu menunggu ada yang pesan dulu baru kita menyemai,” katanya.
Baca Juga: Siapkan Bantuan Bibit untuk Petani Terdampak Banjir, Distanbun NTB Pastikan Petani Tetap Menanam
Proses penyemaian hingga siap ditanam membutuhkan waktu sekitar 3-4 Minggu.
Permintaan benih di Kecamatan Selong dan sekitarnya diakui cukup tinggi. Tidak jarang benihnya habis di pesan petani.
Hanya saja saat ini ia masih terkendala modal untuk mengembangkan usaha tersebut, modal yang dimiliki saat ini belum mampu diputar 2-3 kali.
Sehingga untuk menyiasati hal tersebut ia kembali mencicil hasil kerja yang lain.
"Saya tetap bekerja di luar, kalau benih ini di kerjakan malam sepulang kerja. Kalau isi tanah dan masukan tanah saya pekerjaan tetangga sekitar. Mudah-mudahan besok bisa kita kembangkan lagi menjadi lebih besar ke samping sehingga orang yang bekerja lebih banyak lagi," tutupnya . (Supardi/r6)
Editor : Kimda Farida