Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Sukses H Subhan Kembangkan Cabai di Green House Hingga Miliki 1.000 Petani Binaan

Lombok Post Online • Rabu, 25 Juni 2025 | 07:45 WIB

 

CEK: H Subhan saat mengecek kondisi tanaman cabai di green house miliknya yang di bangun di lahan seluas 20 hektare, Selasa (24/6).
CEK: H Subhan saat mengecek kondisi tanaman cabai di green house miliknya yang di bangun di lahan seluas 20 hektare, Selasa (24/6).
 

Di balik dinding plastik dua green house miliknya, H Subhan menumbuhkan harapan bersama ribuan petani binaan.

Ketua Champin Cabai ini tak hanya menanam cabai, tapi juga memupuk semangat bertani cerdas di tengah tanah yang mulai lelah.

Dua green house raksasa berdiri kokoh di belakang gudang penyimpanan cabai.

Satu dibangun di lahan seluas 20 are menggunakan baja ringan, satu lagi di lahan 10 are dengan bahan bambu.

Tanaman cabai dalam green house 20 are tampak tumbuh subur, seolah hama dan penyakit enggan hinggap.

Sementara green house yang lebih kecil masih dalam tahap penanaman. Satu bedengan diisi dua jenis tanaman.

Bagian pinggir ditanami cabai, bagian tengah tomat.

Dua green house itu milik H Subhan, petani cabai asal Desa Kerongkong, Kecamatan Suralaga, Lombok Timur.

Namanya cukup dikenal di kalangan petani maupun pemerintah, karena ia menjabat sebagai ketua champion cabai Lombok Timur.

"Sebagai ketua champion cabai sejak 2015, di NTB hanya saya yang terpilih. Syarat jadi champion itu harus bisa memahami kondisi tanaman dan pasar," terang H Subhan saat ditemui di rumahnya, Selasa (24/6).

Kisahnya sebagai petani cabai dimulai sejak 1997. Cabai dan sayuran sudah lama menjadi komoditas utama warga Desa Kerongkong, diwariskan turun-temurun. Subhan memilih fokus pada tanaman cabai dan tomat.

Ilmu pertanian dan pemasaran didapat langsung dari almarhum ayahnya yang sudah mulai mengirim cabai ke luar daerah, termasuk ke Jakarta sejak 1995.

"Tahun 1995 kami sudah mulai kirim ke luar daerah. Tapi tahun 1997 itu orang tua meninggal, sehingga saya lanjutkan usaha ini sampai sekarang," bebernya.

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

Sejak itu, ia mulai serius mengembangkan usaha pengiriman cabai ke Jakarta. Volume pengiriman bisa mencapai 10 ton per hari, mengingat kebutuhan pasar ibu kota mencapai 140 ton per hari.

Namun dua tahun terakhir, ia tidak lagi mengirim ke luar daerah. Pemerintah meminta setiap kabupaten menjaga ketersediaan cabai untuk wilayahnya masing-masing, agar harga tetap stabil dan masyarakat terbantu.

"Tetapi kebutuhan cabai di Lotim juga sangat tinggi. Termasuk harga juga tergolong sangat bagus, jika dibandingkan dengan harga di luar. Jadi buat apa kita kirim ke luar daerah kalau di daerah sendiri juga bagus," katanya.

Ia mengakui, produksi cabai di Lombok Timur kini menurun. Produksi tertinggi hanya 4-5 ton per hektare, padahal sebelumnya bisa mencapai 7-8 ton. Penurunan ini dipicu kondisi tanah yang mulai lelah akibat dominasi penggunaan pupuk kimia.

"Salah satu cara menyuburkan tanah adalah perbanyak pupuk organik dan dolomit. Setiap kali penanaman harus ada penggunaan pupuk organik, itu menjadi kunci kesuksesan bertani," ungkapnya.

Pahit manis dunia pertanian telah ia lalui. Kerugian besar pun pernah dialami, termasuk saat belum menggunakan metode smart farming.

"Saat itu saya belum menggunakan green house, saya rugi sampai Rp 1 miliar lebih, tanaman mati total," ungkapnya.

Namun dari kegagalan itu ia bangkit. Antara 2000 hingga 2008, omzet usahanya menembus Rp 1 hingga Rp 1,5 miliar per tahun. Saat ini omzetnya menurun menjadi sekitar Rp 700 juta hingga Rp 800 juta per tahun, karena hanya mengandalkan green house.

Perbedaan hasil antara green house dan tanaman di sawah sangat signifikan. Dari sisi kesehatan, produksi, hingga umur tanaman. Hasil cabai dari green house 10 are setara dengan satu hektare di sawah, dengan biaya produksi yang lebih hemat.

"Umur cabai di green house itu bisa sampai satu tahun lebih. Kalau di sawah paling lama 2-3 bulan sudah mati. Selain tanaman sendiri, saya juga punya seribu petani binaan di Lotim," katanya.

Subhan berharap petani NTB mulai beralih ke green house, meski modal awalnya besar. Menurutnya, investasi ratusan juta itu bisa kembali hanya dalam waktu satu tahun.

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post

"Memang modal awalnya besar tapi satu tahun bisa balik modal bahkan untung. Makanya kami mendorong petani binaan bisa buat green house walaupun kecil-kecil dulu," tutupnya. 

Editor : Akbar Sirinawa
#hama #Green House #Cabai #Jakarta #Lombok Timur