LombokPost - Bupati Lombok Timur H Haerul Warisin membuka Festival Bahari ‘Nyalamak Dilauk’ (selamatan laut,red) di Desa Tanjung Luar, Kecamatan Keruak, Lombok Timur, Rabu (9/7).
Haerul Warisin dalam sambutannya mengapresiasi masyarakat nelayan Desa Tanjung Luar yang sampai saat ini masih menjaga tradisi dan budaya leluhur mereka dengan melestarikan ritual ‘nyalamaq palabuang atau nyalamaq dilauk’.
Festival tersebut diharapkan dapat terus berlangsung dan menjadi salah satu ikon pariwisata budaya di Lombok Timur.
Baca Juga: Sangiang Api 2025, Festival Bahari Paling Panas dari Timur NTB Siap Meledak Lagi
“Dengan apa yang pemerintah kabupaten Lombok Timur saksikan saat ini, kami atas nama pemerintah mengucapkan terima kasih pada warga Desa Tanjung Luar. Ini adalah kegiatan yang patut dikembangkan dan dipromosikan,” kata Haerul Warisin.
Ketua bidang kebudayaan Lembaga Adat Desa Tanjung Luar H Muhammad Saifullah menerangkan ritual Nyalama' Palabuang/Nyalamaq Dilau' merupakan tradisi masyarakat nelayan yang telah berlangsung sejak 1907.
Rangkaian acaranya berupa pawai alegoris penuh makna. Sebagian warga di bawah komandan Sandro, membawa kerbau berhias keliling-desa atau yang disebut ngalipu'.
“Nantinya, kerbau berhias ini akan disembelih pada malam atau sore hari menjelang acara puncak yakni acara malagga' tikolo' atau melarung kepala kerbau ke laut,” jelasnya.
Dalam pawai tersebut, kerbau berhias diiringi perempuan pembawa ‘Jajakah’ Pangalantiq, Bone-Bone, Pasarone/ pagandah, benda pusaka bujjak, dan perempuan ‘kedongkoang’ (kesurupan, red).
Ketua Panitia Festival Nyalamaq Dilauk Abbas Hasan menuturkan, event tersebut berlangsung selama 7 hari 7 malam.
Dimulai dengan kegiatan pembukaan dan ritual ngaririk kerbau, sampai dengan ‘malaga tikolo’ atau melarung kepala kerbau di laut.
“Ada juga lomba hias sampan, siram-siraman, pencak silat, dan hiburan musik tradisional dan modren, juga drama kolosal,” terang Hasan. (tih)
Editor : Pujo Nugroho