LombokPost - Sebanyak 20 desa di Lombok Timur masuk kategori rawan bencana saat musim hujan. Banjir, banjir rob, dan longsor menjadi ancaman yang berulang tiap tahun di lima kecamatan.
“Ada lima kecamatan yang rawan terjadi banjir, banjir rob, dan longsor. Itu ada 20 desa yang sangat rawan terdampak,” terang Kalak BPBD Lotim Lalu Muliadi, Rabu (9/7).
Kecamatan yang masuk kategori rawan antara lain Sembalun, Sambelia, Pringgabaya, Sikur, dan Jerowaru. Adapun desa yang terdampak di antaranya Gunung Malang, Orong Bukal, Seruni Mumbul, Tanjung Luar, Wakan, Sembalun, Sembalun Bumbung, Sembalun Lawang, Sajang, Bilok Petung, Tetebatu, Jeruk Manis, Kembang Kuning, Padak Guar, serta beberapa desa lainnya.
“Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), di Lotim akan terjadi banjir dan banjir rob pada tanggal 6 sampai 16 Juli,” katanya.
Prediksi ini menjadi peringatan dini bagi BPBD dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Meski demikian, jauh sebelumnya BPBD sudah melakukan mitigasi bencana di wilayah rawan tersebut.
Upaya yang dilakukan antara lain pembersihan sungai dan saluran irigasi dari sampah, normalisasi sungai, pengerukan sedimentasi, serta pembuatan sungai pengelak banjir di kawasan perbukitan agar air tidak langsung mengalir ke permukiman.
Ia menambahkan, antisipasi banjir besar harus dimulai dari langkah kecil. Genangan air yang muncul di permukiman harus segera ditangani karena berpotensi memicu banjir besar jika dibiarkan.
Selain penanganan banjir dan longsor, dalam waktu dekat BPBD bersama BMKG juga akan menggelar Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) untuk mencegah kecelakaan laut akibat cuaca ekstrem.
Ia mengimbau masyarakat tetap tenang namun tidak abai terhadap imbauan atau prediksi cuaca dari BMKG. Warga juga diminta tidak membuang sampah sembarangan, terutama di bantaran sungai dan saluran air.
Sementara itu, Lurah Pancor Lalu Ridho Arindi menyampaikan, pihaknya bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) telah memasang jaring sampah di saluran irigasi guna mencegah meluapnya air saat hujan.
“Pemasangan jaring sampah ini baru dilakukan di Kelurahan Pancor. Tapi ke depan, inovasi ini akan diterapkan di tempat lain,” ujarnya.
Ia mengakui salah satu persoalan utama di Kelurahan Pancor adalah sampah, terutama di sepanjang bantaran sungai. Keberadaan jaring ini diharapkan bisa mengurangi volume sampah yang masuk ke sungai.
Editor : Siti Aeny Maryam