LombokPost–Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lombok Timur mengklaim tren kasus perundungan (bullying) mengalami penurunan. Beberapa bulan terakhir, laporan dari sekolah-sekolah nyaris tidak terdengar.
“Tahun ini baru 11 kasus. Itu pun paling banyak kasus pernikahan anak, kemudian penelantaran dan lainnya. Tahun lalu total kasus 41. Yang cukup terlihat sekarang adalah kasus bullying sudah jarang ditemukan. Bahkan sampai sekarang kami belum menerima laporan,” terang Kepala DP3AKB Lotim Ahmat. Kemarin
Menurutnya, penurunan itu salah satunya dipengaruhi deklarasi sekolah dan pondok pesantrenramah anak dan ramah perempuan yang dinilaimemberi dampak signifikan.Meski begitu, ia mengakui kekerasan terhadap anak masih terjadi,terutama pernikahan anak.
Isu ini menjadi pekerjaan rumah (PR) terberat Pemkab Lotim danOPD terkait.Karena itu, pihaknya berencana membentukforum anak di setiap desa. Saat ini, baru sekitar 30persen dari 254 desa di Lotim yang memiliki forumanak.
“Forum anak itu akan kita perbanyak nantidi semua desa,” katanya.
Selain itu, pihaknya akan menggencarkan sosialisasi terkait regulasi pernikahan anak, dariPeraturan Daerah (Perda) maupun Peraturan Desa(Perdes).
Ia menilai regulasi tersebut belum tersosialisasi secara masif sehingga banyak masyarakatyang belum mengetahui.
Wakil Bupati Lotim H Moh Edwin Hadiwijayamenyoroti masih minimnya keluarga yang melaporketika terjadi permasalahan anak, padahal seluruhregulasi telah disosialisasikan.
“Banyak kasus yang mengendap tidak terselesaikan. Karena mereka tidak mau melapor. Ini yangmenjadi kendala kita,” katanya.
Ia menegaskan, pencegahan kekerasan terhadapanak membutuhkan kolaborasi banyak pihak. Iajuga berharap status KLA Lotim bisa meningkattahun ini.
Tak hanya itu, ia turut menyoroti kasuskekerasan terhadap perempuan yang masih terjadi, salah satunya sunat perempuan. (par/r7)
Editor : Siti Aeny Maryam