Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

PKM Universitas Hamzanwadi Gelar Workshop Edukasi Bertajuk Santri Melek Gender: Merajut Kesetaraan, Mencegah Pernikahan Anak

Fatih Kudus Jaelani • Minggu, 24 Agustus 2025 | 18:39 WIB

WORKSHOP: Rangkaian kegiatan Workshop Edukasi PKM Universitas Hamzanwadi di Ponpes Darul Muttaqien NWDI Perian, Kabupaten Lombok Timur, Minggu (24/8).
WORKSHOP: Rangkaian kegiatan Workshop Edukasi PKM Universitas Hamzanwadi di Ponpes Darul Muttaqien NWDI Perian, Kabupaten Lombok Timur, Minggu (24/8).
LombokPost - Raut semangat terpancar dari wajah santri yang mengikuti kegiatan workshop edukasi kesetaraan gender di Pesantren. Mereka adalah para santri SMK Darul Muttaqin yang bernaung di bawah Yayasan Pondok Pesantren Darul Muttaqien NWDI Perian, Lombok Timur.

Workshop yang bertajuk “Santri Melek Gender: Edukasi Kesetaraan dan Pencegahan Pernikahan Anak di Pesantren” merupakan salah satu dari rangkaian Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang diinisiasi oleh Tim Dosen dan Mahasiswa Universitas Hamzanwadi. Tim tersebut diketuai M Zainul Asror  dari Program Studi Pendidikan Sosiologi dan beranggotakan masing-masing Ibu Fitri Aulia dari Prodi Bimbingan dan Konseling, dan M Marzuki dari prodi Pendidikan IPA.

M Zainul Asror menerangkan kegiatan tersebut bertujuan untuk membangun pemahaman santri tentang pentingnya kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki. Di saat yang sama, workshop juga bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan agar santri memiliki kemampuan pengambilan keputusan yang baik dan mampu menolak praktik pernikahan anak yang masih marak terjadi di lingkungan sekitar.

“Dalam pemberitaan di media massa beberapa waktu terakhir kita dikejutkan dengan munculnya banyak kasus yang terjadi di Pesantren, mulai dari kasus putus sekolah karena pernikahan anak, kekerasan, bullying dan pelecehan santri. Hal ini menjadi sebuah anomali karena selama ini masyarakat percaya bahwa pesantren merupakan benteng penjaga moral dan kehidupan sosial,” ujar Asror.

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa banyak kasus yang muncul itu disebabkan karena hubungan atau relasi yang timpang antara warga pesantren dan kurangnya pemahaman terkait kesetaraan gender. Dengan demikian program tersebut dihajatkan untuk mendorong peran aktif pesantren terutama para santri untuk bisa menjadi garda terdepan dalam menyuarakan kesetaraan dan mencegah praktik pernikahan anak.

Para santri mengikuti sejumlah sesi pelatihan interaktif, mulai dari diskusi tentang konsep kesetaraan gender, permainan edukatif, sampai dengan membedah dampak negatif dari pernikahan anak terhadap pendidikan, kesehatan, dan masa depan mereka.

Tidak hanya pelatihan bagi santri, sesi workshop juga sebelumnya telah dilaksanakan dengan melibatkan peserta dari semua unsur guru. Hal ini dimaksudkan agar pemahaman terkait kesetaraan gender tidak hanya dari sisi santri saja namun guru juga harus memiliki pemahaman yang sama agar dapat berjalan seiring sejalan.

Kepala Sekolah SMK Darul Muttaqien Haerul Hafiz mengungkapkan perasaan bahagia dengan kegiatan tersebut.

“Kami sangat senang dan berterima kasih kepada Tim Universitas Hamzanwadi yang telah melibatkan SMK Darul Muttaqien sebagai mitra kegiatan PKM Santri Melek Gender ini. Memang salah satu masalah yang kami hadapi setiap tahun masih ada saja para santri atau santriwati yang terpaksa putus sekolah karena menikah,” terang Hafiz.

Tidak selesai hanya pada kegiatan workshop kesetaraan gender untuk santri dan guru, kegiatan pengabdian Santri Melek Gender akan dilanjutkan dengan rangkaian berikutnya meliputi kelas kesehatan reproduksi dan kampanye remaja sehat untuk menambah syiar dan menyebarluaskan kesadaran baru terkait kesetaraan gender bahaya pernikahan anak.

Tim pengabdian masyarakat berharap program ini dapat ditularkan ke pesantren-pesantren lain, mengingat ada banyak ratusan pesantren di NTB dengan jumlah ribuan santri. Peran aktif pesantren sebagai garda terdepan sangat dibutuhkan agar kampanye pencegahan pernikahan anak dapat lebih diterima dan berkelanjutan.

Dengan begitu program “Santri Melek Gender” bisa mendorong kesadaran baru bahwa pesantren bukan sekadar tempat menuntut ilmu agama tapi juga menjadi tempat tumbuhnya kesadaran

Editor : Jelo Sangaji
#Pengabdian kepada masyarakat #pondok pesantren #Universitas Hamzanwadi #PKM