Workshop yang bertajuk “Santri Melek Gender: Edukasi Kesetaraan dan Pencegahan Pernikahan Anak di Pesantren” merupakan salah satu dari rangkaian Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang diinisiasi oleh Tim Dosen dan Mahasiswa Universitas Hamzanwadi. Tim tersebut diketuai M Zainul Asror dari Program Studi Pendidikan Sosiologi dan beranggotakan masing-masing Ibu Fitri Aulia dari Prodi Bimbingan dan Konseling, dan M Marzuki dari prodi Pendidikan IPA.
M Zainul Asror menerangkan kegiatan tersebut bertujuan untuk membangun pemahaman santri tentang pentingnya kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki. Di saat yang sama, workshop juga bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan agar santri memiliki kemampuan pengambilan keputusan yang baik dan mampu menolak praktik pernikahan anak yang masih marak terjadi di lingkungan sekitar.
“Dalam pemberitaan di media massa beberapa waktu terakhir kita dikejutkan dengan munculnya banyak kasus yang terjadi di Pesantren, mulai dari kasus putus sekolah karena pernikahan anak, kekerasan, bullying dan pelecehan santri. Hal ini menjadi sebuah anomali karena selama ini masyarakat percaya bahwa pesantren merupakan benteng penjaga moral dan kehidupan sosial,” ujar Asror.
Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa banyak kasus yang muncul itu disebabkan karena hubungan atau relasi yang timpang antara warga pesantren dan kurangnya pemahaman terkait kesetaraan gender. Dengan demikian program tersebut dihajatkan untuk mendorong peran aktif pesantren terutama para santri untuk bisa menjadi garda terdepan dalam menyuarakan kesetaraan dan mencegah praktik pernikahan anak.
Para santri mengikuti sejumlah sesi pelatihan interaktif, mulai dari diskusi tentang konsep kesetaraan gender, permainan edukatif, sampai dengan membedah dampak negatif dari pernikahan anak terhadap pendidikan, kesehatan, dan masa depan mereka.
Tidak hanya pelatihan bagi santri, sesi workshop juga sebelumnya telah dilaksanakan dengan melibatkan peserta dari semua unsur guru. Hal ini dimaksudkan agar pemahaman terkait kesetaraan gender tidak hanya dari sisi santri saja namun guru juga harus memiliki pemahaman yang sama agar dapat berjalan seiring sejalan.
Kepala Sekolah SMK Darul Muttaqien Haerul Hafiz mengungkapkan perasaan bahagia dengan kegiatan tersebut.
“Kami sangat senang dan berterima kasih kepada Tim Universitas Hamzanwadi yang telah melibatkan SMK Darul Muttaqien sebagai mitra kegiatan PKM Santri Melek Gender ini. Memang salah satu masalah yang kami hadapi setiap tahun masih ada saja para santri atau santriwati yang terpaksa putus sekolah karena menikah,” terang Hafiz.
Tidak selesai hanya pada kegiatan workshop kesetaraan gender untuk santri dan guru, kegiatan pengabdian Santri Melek Gender akan dilanjutkan dengan rangkaian berikutnya meliputi kelas kesehatan reproduksi dan kampanye remaja sehat untuk menambah syiar dan menyebarluaskan kesadaran baru terkait kesetaraan gender bahaya pernikahan anak.
Tim pengabdian masyarakat berharap program ini dapat ditularkan ke pesantren-pesantren lain, mengingat ada banyak ratusan pesantren di NTB dengan jumlah ribuan santri. Peran aktif pesantren sebagai garda terdepan sangat dibutuhkan agar kampanye pencegahan pernikahan anak dapat lebih diterima dan berkelanjutan.
Dengan begitu program “Santri Melek Gender” bisa mendorong kesadaran baru bahwa pesantren bukan sekadar tempat menuntut ilmu agama tapi juga menjadi tempat tumbuhnya kesadaran
Editor : Jelo Sangaji