Lombokpost-Dinas Pertanian (Distan) Lombok Timur (Lotim) mengaku siap memenuhi semua kebutuhan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), baik kebutuhan beras, sayur maupun yang lainnya, mengingat hasil pertanian di Lotim diakui selalu surplus.
"Berapapun kebutuhan MBG Insyaallah kita siap penuhi. Baik beras maupun sayur. Persoalannya sekarang MBG mampu beli atau tidak saja," terang Kepala Dinas Pertanian Lotim, Lalu Fathul Kasturi, Minggu (19/10).
Distan Lotim siap untuk menjembatani para petani dengan pengelola MBG agar hasil produksi mereka bisa terserap. Namun ia berharap para petani lebih fokus dulu untuk meningkatkan kualitas dan jumlah produksi.
Jika kualitas dan hasil produksi sudah banyak, pihaknya memiliki tanggung jawab untuk mencarikan pasar yang menguntungkan bagi petani. Salah satunya bekerja sama dengan pihak dapur MBG.
"Di satu sisi produksi kita berhasil, pasar juga harus kita siapkan. Salah satunya melalui program MBG dan ini menjadi pasar yang jelas bagi petani, ”katanya.
Kasturi menyebut hasil produksi gabah tahun ini cukup tinggi, bahkan melampaui target yang telah ditetapkan. Sehingga dipastikan Lotim tidak akan kekurangan pangan, hingga panen raya tahun depan.
Ia menyebut salah satu tantangan pertanian Lotim ialah masih kurangnya alat dan mesin pertanian (Alsintan) yang ada, khususnya mesin panen padi. Akan tetapi masalah ini diakui telah dikoordinasikan dengan Kementerian Pertanian.
"Pak bupati sudah bertemu dengan Kementan Insyaallah masalah ini akan segera terjawab. Memang kami akui kita masih sangat kekurangan alsintan, sementara luas areal tanaman padi kita cukup luas," katanya.
Selain padi, hasil komoditi lain seperti cabai juga diklaim menunjukkan hasil yang cukup bagus. Hanya saja yang kerap menjadi masalah adalah persoalan harga yang fluktuatif.
Bahkan hujan lebat beberapa Minggu lalu sempat membuat harga cabai anjlok hingga di bawah Rp 15 ribu per kilogram.
"Sekarang sudah di angka Rp 18 ribu lebih, dan ini tergolong cukup bagus. Tapi kalau cabai ini kapan saja bisa turun naik harganya," jelasnya.
Sebelumnya, anggota Kelompok Tani Aik Dewa Utara Saipudin Zohri berharap pengelola dapur MBG dapat mengakomodir petani langsung, bukan melalui suplayer atau pengepul.
"Teman-teman memang sudah memasukkan hasil pertanian ke dapur-dapur MBG. Tetapi yang dilakukan selama ini melalui pengepul, bukan pihak MBG langsung ke petani, " terangnya.
Diharapkan pihak dapur turun langsung ke petani membeli kebutuhan dapur. Sehingga hal ini diakui akan lebih menguntungkan petani. Karena rantai penjualan bisa dipangkas.
Penyerapan hasil pertanian oleh MBG ini juga diharapkan menjadi solusi bagi petani, di tengah ketidak pastian harga di pasaran. Baik harga sayur maupun tanaman hortikultura lainnya seperti cabai dan tomat.
Editor : Siti Aeny Maryam