Lombokpost-Dari limbah yang dulu tak terpikirkan, kulit ikan tuna kini disulap menjadi camilan gurih bernilai ekonomi tinggi. Inovasi sederhana dari tangan-tangan ibu rumah tangga di Desa Seruni Mumbul, Kecamatan Pringgabaya, ini perlahan membuka peluang usaha baru dan memberdayakan warga sekitar.
Memasuki pintu belakang rumah yang tergolong mewah itu, sekelompok ibu-ibu tampak sibuk mengemas kerupuk yang baru selesai digoreng. Di sudut lain, seorang perempuan mengisi plastik berukuran besar dengan kerupuk yang telah matang.
Setelah selesai dikemas, seorang pria bersiap mengantarkannya ke pelanggan di sekitar lokasi produksi. Kerupuk itu adalah kerupuk kulit ikan tuna, produk khas Desa Seruni Mumbul.
Baca Juga: Melihat Mata Air di Pinggir Laut Desa Seruni Mumbul
Pemilik usaha kerupuk kulit ikan tuna, Susanti mengatakan, pembuatan kerupuk ini cukup rumit. Sebelum digoreng, kulit ikan tuna yang telah dipisahkan dari dagingnya dibersihkan kembali dari sisa sisik dan daging yang masih menempel. Proses pencucian dilakukan hingga sembilan sampai sepuluh kali menggunakan air bersih.
“Setelah dibersihkan, selanjutnya dimarinasi selama satu malam. Setelah dimarinasi baru digoreng tanpa harus dijemur terlebih dahulu,” terang Susanti, Selasa (4/11).
Kerupuk kulit ikan tuna ini cukup diminati pasar. Namun, produksinya belum bisa dilakukan dalam jumlah besar karena legalitas produk masih dalam proses. Meski begitu, pembeli tetap menunggu ketersediaannya.
Baca Juga: Kades Seruni Mumbul Lotim Pastikan Semua TPS Aman dari Banjir
Sebelumnya, dalam sehari Susanti mampu memproduksi hingga 100 kilogram kerupuk kulit ikan tuna. Untuk saat ini, produk tersebut baru dipasarkan di warung-warung kecil sekitar rumah. Setelah seluruh izin rampung, ia menargetkan perluasan produksi dan pemasaran.
“Insya Allah minggu ini label halalnya sudah terbit, karena kemarin petugasnya sudah menghubungi kami, katanya minggu ini sudah bisa terbit,” jelasnya.
Selain rasanya yang gurih dan khas, kerupuk kulit ikan tuna ini menjadi satusatunya produk berbahan kulit ikan tuna di Kecamatan Pringgabaya, bahkan mungkin di Lombok Timur. Tak heran banyak warga tertarik mencobanya.
Baca Juga: Terendam Banjir, Puluhan Kuburan Warga di Seruni Mumbul Lotim Ambrol
Meski masih berskala rumahan, usaha ini sudah mampu menyerap empat hingga lima pekerja, sebagian besar ibu rumah tangga sekitar. Susanti berharap setelah legalitas keluar, produksi bisa ditingkatkan.
“Sekarang kita jual di sekitar Kecamatan Pringgabaya saja. Mudah-mudahan nanti bisa produksi lebih banyak dan dipasarkan lebih luas lagi. Dengan begitu jumlah pekerja akan bertambah,” imbuhnya.
Satu bungkus kerupuk dibanderol Rp 15.000. Selain dijual langsung oleh para pekerja, produk ini juga dipasarkan sejumlah reseller. Bahkan, tak jarang pembeli datang langsung ke lokasi.
Baca Juga: Lomba Promosi Desa Wisata Nusantara, Desa Seruni Mumbul Masuk 24 Besar
Kerupuk kulit ikan tuna ini memiliki dua varian rasa, yakni kerupuk nasi ikan dan kerupuk kulit ikan tuna original.Untuk bahan baku, kulit ikan tuna diperoleh langsung dari perusahaan ikan tuna milik keluarga Susanti. Ketersediaan bahan baku pun selalu terjamin.
“Jadi ikan-ikan yang digunakan masih segar, karena pengiriman setiap hari,” jelasnya. (*)
Editor : Marthadi