Lahan pertanian warga di Desa Jeruk Manis, Kecamatan Sikur terlihat kosong. Petani baru selesai memanen padi. Di beberapa titik, hanya tersisa tumpukan jerami yang mengering di tengah sawah. Sebagian lahan sedang bersiap untuk tanam ketiga.
Jauh di pedalaman Jeruk Manis, tanaman padi dipanen lengkap dengan tangkainya. Ikatan sebesar genggaman orang dewasa dijemur di tengah sawah. Sepintas, padi itu mirip ketan. Itulah padi Lese, padi pertama yang ditemukan di tanah Lombok dan hingga kini masih ditanam masyarakat Desa Jeruk Manis.
Kepala Desa Jeruk Manis Nasipudin menceritakan, padi lese ini hampir punah. Di desanya sendiri, padi ini nyaris hilang dan hampir hanya menyisakan nama. Keluarganya menjadi satu-satunya yang masih menjaga dan menanam padi lese meski jumlahnya sangat sedikit.
“Saya mulai mengembangkan padi lese ini pada tahun 2015 lalu. Tapi benar-benar fokus itu pada tahun 2017. Saya dapat bibitnya dari ibu saya. Tapi jumlahnya hanya sedikit, karena ibu saya menanam di lahan yang hanya sepetak,” terang pria yang lebih akrab disapa Acip itu, Minggu, (16/11).
Keinginannya mengembangkan kembali padi lese berangkat dari tekad untuk mempertahankan jenis padi tersebut, sekaligus mengembalikan pola pertanian tradisional dengan pupuk organik yang ia nilai lebih baik daripada metode konvensional.
Padi lese juga memiliki kelebihan dibanding varietas lain. Rasanya lebih enak dan harum, bulirnya lebih besar, dan umur tanamnya sekitar tiga bulan, hampir sama dengan varietas lain.
“Itu yang membuat saya tertarik untuk kembali menanam padi ini, meskipun orang-orang sudah meninggalkannya. Bahkan proses pertaniannya saya menggunakan metode tradisional dan organik. Bahkan apapun tanaman yang saya tanam semua menggunakan organik,” jelas Nasipudin.
Dari hasil produksi, padi lese dinilai lebih banyak dibanding varietas lain. Satu tangkai bisa menghasilkan 300-350 butir padi. Pada varietas lain, jumlahnya lebih sedikit karena tangkainya lebih pendek.
Keunggulan lain, padi ini tidak terlalu membutuhkan pupuk kimia. Penanaman padi lese dilakukan sepenuhnya dengan metode tradisional dan bahan organik, dan hasil produksinya dinilai lebih baik.
“Pada tahun pertama pengembangan padi ini, saya selalu menggunakan pupuk organik dan metode tradisional. Awal-awal itu memang hasilnya anjlok. Karena butuh tiga tahun untuk mengembalikan kesuburan tanah akibat terkontaminasi pupuk kimia. Kalau sekarang hasilnya jauh lebih bagus,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, perbedaan pertanian organik dan konvensional terletak pada cara tanaman diberi nutrisi. Pertanian tradisional menghidupkan mikroba tanah sehingga kesuburannya meningkat. Pertanian konvensional memberi makan langsung kepada tanaman sehingga lebih cepat tumbuh, sementara organik membutuhkan waktu lebih lama.
“Tapi stigma itu berhasil saya bantah. Bahkan saya lebih cepat panen dari pertanian konvensional. Mereka satu minggu lebih dulu menanam dari saya. Tapi sekarang saya yang lebih dulu panen, padi ini kalau ditanam menggunakan pupuk kimia maka batangnya saja yang tumbuh subur,” ungkapnya.
Padi lese bukan hanya menjadi makanan masyarakat. Padi ini dipercaya memiliki manfaat lain, seperti bahan penawar berbagai penyakit. Tangkai buahnya juga diyakini menjadi obat bagi orang yang mengalami gangguan mental atau stres, dengan cara diukuf (diasapi, Red) menggunakan tangkai padi yang dibakar.
Meski begitu, cerita tersebut belum terbukti secara penelitian. Namun ia tertarik mengkaji kandungan beras. Jika merujuk cerita orang tua dahulu, kandungan padi lese disebut mirip beras Jepang yang banyak digunakan sebagai obat.
“Beras ini mudah pecah dan teksturnya lebih lembut. Makanya kalau kita dengar cerita orang tua terdahulu, saya berkeyakinan beras ini juga memiliki kandungan yang sama dengan beras Jepang,” tutupnya. (bersambung)
Editor : Siti Aeny Maryam