Lombokpost - Bupati Lombok Timur (Lotim) Haerul Warisin menegaskan peran strategis penyuluh pertanian dalam mendukung program swasembada pangan yang menjadi prioritas pemerintah pusat. Penyuluh dinilai menjadi ujung tombak pendampingan petani untuk menjaga ketersediaan pangan di Lotim.
"Penyuluh pertanian ini adalah personel yang sangat penting untuk mendukung program swasembada pangan," terang bupati saat mengumpulkan seluruh penyuluh pertanian se Lotim, Selasa (23/12).
Kata Warisin, Lotim sejak dahulu disebut sebagai daerah swasembada pangan. Bahkan, sejak puluhan tahun lalu, Lotim telah membantu daerah lain dalam memenuhi kebutuhan pangan, seperti Bali dan NTT.
"Kita selalu surplus hasil pertaniannya," katanya.
Kendati demikian, petani Lotim masih membutuhkan pendampingan dari penyuluh atau pekerja lapangan (PL) pertanian, terutama terkait hal-hal baru. Misalnya varietas baru dengan umur tanam lebih pendek dan hasil lebih tinggi, yang harus disampaikan dan didampingi penyuluh.
Ia menegaskan, tolok ukur keberhasilan penyuluh pertanian adalah kemampuan memenuhi kebutuhan pangan selain tanaman padi. Seperti cabai, tomat, dan bawang merah yang dapat tumbuh sepanjang waktu dan tidak terlalu dipengaruhi perubahan cuaca.
Baca Juga: Harga Cabai di Mataram Naik, Dinas Pertanian Jamin Stok Aman dari Lombok Timur
"Kalau masih menanam cabai, sesuai dengan ekosistem dan waktunya, belum modern namanya. Itu namanya masih menjadi pertanian dan penyuluh tradisional, belum modern," katanya.
Penyuluh pertanian ditekankan mampu mengubah pola kerja tradisional menjadi berbasis teknologi tinggi. Dengan demikian, kebutuhan pangan selain padi di Lotim dapat terpenuhi. Hal ini penting mengingat sejumlah komoditas kerap memicu inflasi, seperti bawang merah, cabai, dan sayur-sayuran lainnya.
Terlebih, kata dia, jika seluruh dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) telah beroperasi, terutama di daerah terjauh, terluar, dan terpencil (3T), maka Lotim berpotensi mengalami kekurangan komoditas, seperti bawang, cabai, kedelai, tomat, dan sayur-sayuran.
"Untuk itu mulai dari sekarang penyuluh pertanian harus mencari komoditas kedelai yang umurnya lebih pendek tetap memiliki produksi yang bagus. Karena kebutuhan kedelai ini sangat tinggi, baik untuk pembuangan tahu dan tempe," katanya.
Ketua DPD Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) Lotim L Muhammad Zainuddin menyampaikan Indonesia harus segera menjadi negara swasembada pangan. Indonesia tidak boleh bergantung pada pasokan makanan dari luar negeri.
"Untuk mencapai target itu maka dikeluarkanlah Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2025, tentang pendayagunaan penyuluh pertanian, dalam rangka percepatan swasembada pangan," katanya. (par/r7)
Editor : Marthadi