Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Warga Desak Pengelola Bale Mangrove di Lombok Timur Dievaluasi

Supardi/Bapak Qila • Senin, 5 Januari 2026 | 11:03 WIB
seorang petugas dari Satpol-PP Lotim saat berjaga di depan pintu masuk ekowisata Bale Mangrove yang ditutup warga saat aksi unjuk rasa.
seorang petugas dari Satpol-PP Lotim saat berjaga di depan pintu masuk ekowisata Bale Mangrove yang ditutup warga saat aksi unjuk rasa.

Lombokpost-Puluhan warga Dusun Potonbako, Desa Jerowaru, Lombok Timur (Lotim), mendesak evaluasi dan penggantian pengelola Ekowisata Bale Mangrove.

Warga menilai pengelolaan destinasi tersebut tidak adil dan tidak sesuai harapan masyarakat.

“Pengelola Bale Mangrove tidak adil, hanya memberikan kesempatan berjualan kepada orang-orang tertentu saja,” terang Nurjan, perwakilan warga Dusun Potonbako saat aksi, Sabtu (3/1).

Ia menyebut masyarakat lain yang ingin berjualan di Bale Mangrove tidak diizinkan.

Pengelola dituding hanya memberikan ruang kepada pihak tertentu atau keluarga dekat saja.

Padahal tujuan awal pembangunan Bale Mangrove untuk membuka peluang ekonomi seluas-luasnya bagi masyarakat sekitar.

“Nyatanya tujuan awal itu tidak sesuai dengan apa yang terjadi saat ini. Bahkan jauh dari harapan masyarakat,” tegas Nurjan.

Warga berharap pengelolaan Bale Mangrove dapat memberikan ruang transparan bagi seluruh elemen masyarakat.

Terutama bagi pedagang kecil yang ingin mencari nafkah di area wisata tersebut.

Kepala Desa Jerowaru Muhammad Nasruddin menyampaikan, masyarakat menuntut agar pengelolaan dilakukan secara adil. Khususnya dengan memberikan kesempatan bagi pelaku UMKM di sekitar kawasan wisata.

“Masyarakat meminta UMKM yang ada di Dusun Potonbako juga diberikan kesempatan untuk berjualan di dalam area wisata,” kata Nasruddin.

Ia menjelaskan, pengurus Ekowisata Bale Mangrove sebelumnya dikukuhkan melalui Dinas Pariwisata.

Destinasi itu dikelola oleh kelembagaan komunitas, bukan langsung pemerintah desa. Pemdes Jerowaru selama ini hanya memberikan dukungan berupa regulasi pengembangan wisata.

Saat ini terdapat sekitar delapan UMKM yang berjualan di dalam area Bale Mangrove.

Sementara ada 10 hingga 12 UMKM lain yang ingin ikut berjualan di tempat tersebut.

“Untuk sementara waktu Bale Mangrove kita tutup, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Nanti kita akan musyawarah dulu untuk penyelesaian masalah ini,” jelasnya.

Nasruddin menilai potensi Ekowisata Bale Mangrove sangat besar dalam meningkatkan perekonomian masyarakat.

Karena itu, tujuan utama pembentukan ekowisata ini adalah kesejahteraan warga Dusun Potonbako dan Desa Jerowaru secara umum.

“Kami tidak pernah melakukan penarikan biaya terhadap pedagang yang berjualan di lokasi wisata, mungkin diterapkan oleh pengelola,” pungkasnya. 

 

 

 

 

Editor : Kimda Farida
#ekowisata #Mangrove #Lotim #Ekowisata Mangrove