Lombokpost-Deburan ombak Teluk Ekas yang menggelegar memaksa perahu nelayan mati suri di bibir Pantai. Bagi Saruji, ganasnya musim angin dan hujan adalah waktu untuk mengadu nasib di tebing karang, demi mengais rumput laut liar sebagai penyambung hidup.
Angin di Teluk Ekas siang itu bertiup kencang ke arah selatan. Deburan ombak menggelegar dan terhempas keras, membuat perahu kecil serta keramba budi daya nelayan terombang-ambing.
Di bibir pantai, seorang pria sibuk menyelamatkan rumput laut yang sedang dijemur. Berkali-kali ia menarik terpal ke tempat aman agar tidak terseret ombak. Sosok itu adalah Saruji, 52 tahun, nelayan asal Desa Ekas Buana.
Saruji bercerita, hampir tiga minggu terakhir ia libur melaut akibat cuaca buruk. Angin kencang dan gelombang besar memaksa sebagian nelayan memarkirkan perahu. Saat cuaca ekstrem, para nelayan mencari pekerjaan lain. Mereka yang memiliki lahan beralih menjadi petani jagung atau padi.
“Kalau yang punya sawah dan bukit mereka akan menanam jagung. Kadang begitu musim hujan tiba mereka sudah parkir perahu untuk bertani menanam jagung,” katanya, Senin (26/1).
Bagi nelayan yang tidak memiliki lahan pertanian seperti Saruji, mencari rumput laut liar di tebing karang menjadi pilihan untuk menyambung hidup. Rumput laut liar ini menjadi andalan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saat tidak bisa melaut atau ketika rumput laut budi daya belum masa panen.
“Kalau musim angin seperti ini, kita cari rumput laut liar di pinggir-pinggir tebing atau di karang-karang,” jelasnya.
Penghasilan dari rumput laut liar memang tidak menentu. Biasanya, ombak besar menyulitkan pencarian di sela-sela tebing. Kendati demikian, hasil mengumpulkan tanaman laut ini sangat membantu ekonomi keluarga saat paceklik melaut.
Dalam sebulan, Saruji bisa mendapatkan hasil penjualan antara Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta. Harga rumput laut liar kering saat ini dipatok Rp 5.000 per kilogram, sementara rumput laut budi daya berkisar Rp 8.000 sampai Rp 9.000 per kilogram.
“Harganya lebih murah memang dari pada rumput laut budi daya. Tetapi dari pada tidak ada dikerjakan, hasilnya kadang lumayan juga,” katanya.
Menurutnya, cuaca saat ini tidak berpengaruh terhadap kualitas rumput laut. Suhu dingin saat musim hujan justru membuat kualitasnya bagus. Sebaliknya, suhu panas pada musim kemarau berisiko merusak tanaman. Rumput laut kering ini biasanya dijual kepada pengepul terdekat.
“Mereka yang datang langsung ke sini untuk beli,” ungkapnya.
Saruji mengakui hasil menangkap ikan jauh lebih besar dibanding mencari rumput laut liar. Namun, ia bersyukur keberadaan rumput laut liar mampu menjaga dapur tetap mengepul di saat pemasukan dari laut terhenti. (*/r7)
Editor : Redaksi Lombok Post