LombokPost - Program kerja KKN bukan sekedar menggugurkan tugas kampus semata. Tapi juga bagaimana program itu dapat bermanfaat selamanya untuk masyarakat dan lingkungan sekitar pada tahun mendatang.
Petang mulai merayap di Desa Jeruk Manis, Kecamatan Sikur. Gerimis tipis yang membasahi tanah tak menyurutkan semangat puluhan anak muda dan warga setempat. Mereka tampak sibuk menanam bibit kopi serta avocad di kawasan Bukit Bunga, salah satu destinasi wisata di desa tersebut.
Aksi penghijauan ini diinisiasi mahasiswa KKN PMD Universitas Mataram (Unram). Agenda ini bukan sekadar menggugurkan tugas kuliah, melainkan wujud kepedulian menjaga kelestarian alam dan sumber mata air. Lebih dari itu, program ini menjadi ikhtiar mengembalikan identitas Desa Jeruk Manis.
Sekretaris KKN PMD Unram 2025/2026 Desa Jeruk Manis Risa Risiyaningsih menjelaskan, penanaman bibit kopi, avocad, hingga bunga bugenvil dilakukan di tiga titik wisata. Lokasi tersebut meliputi Air Terjun Tibu Bunter, Air Terjun Durian Indah, dan Bukit Bunga.
"Pemilihan bibit kopi dan alpukat ini, dengan tujuan agar program KKN PMD ini tidak hanya bersifat sementara. Namun memberikan dampak jangka panjang," terang Risa saat ditemui di sela kegiatan, Selasa (27/1).
Dahulu, Jeruk Manis dikenal sebagai salah satu lumbung kopi di Lombok Timur bersaing dengan Sembalun. Namun, keberadaan tanaman kopi di sana kian langka lantaran banyak warga beralih ke komoditas lain.
"Sehingga kita ingin mengembalikan itu lagi," katanya.
Keberadaan kebun kopi di lokasi wisata diharapkan menjadi daya tarik tambahan bagi pelancong. Selain ditanam di area publik bersama pemerintah desa, bibit juga dibagikan kepada warga untuk ditanam di pekarangan rumah, agar manfaatnya terasa langsung secara ekonomi.
Risa menekankan, kegiatan ini dirancang untuk memberikan dampak luas, mulai dari pencegahan longsor hingga perlindungan mata air. Tak hanya soal tanaman, mahasiswa juga memberikan edukasi pengolahan sampah organik menjadi pupuk melalui lubang biopori guna mengurangi beban sampah di TPA.
"Setiap dusun kita dampingi untuk membuat lubang biopori. Dengan harapan nanti masyarakat bisa mengolah sampah rumah tangga untuk menjadi pupuk kompos yang dapat dimanfaatkan kembali. Termasuk kami juga buat bank sampah di tempat-tempat wisata," jelas Risa.
Untuk mendukung status Jeruk Manis sebagai desa wisata, para mahasiswa turut menggelar kelas Bahasa Inggris untuk anak-anak, serta pelatihan pariwisata bagi pemuda setempat.
Kepala Desa Jeruk Manis Nasipudin mengapresiasi langkah tersebut. Baginya, keterlibatan semua pihak dalam menjaga alam sangat krusial, mengingat desa ini merupakan wilayah penyangga yang berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).
"Termasuk di sini juga merupakan daerah serapan dan memiliki banyak sumber mata air. Sehingga kegiatan penanaman pohon ini harus terus kita galakkan kepada masyarakat," jelasnya.
Nasipudin berharap penanaman ratusan bibit ini mampu membangkitkan kembali kejayaan Jeruk Manis sebagai penghasil kopi, yang telah melegenda sejak puluhan tahun silam. (*/r7)
Editor : Prihadi Zoldic