Lombokpost-Petani milenial di Kecamatan Sembalun mulai melirik potensi kopi sebagai komoditas unggulan, selain sayur mayur dan bawang putih. Bahkan, petani milenial Sembalun kini menjadikan kopi sebagai gaya hidup.
Penggiat kopi Sembalun Rusmala melihat ada pergeseran minat masyarakat, terutama kalangan milenial di Sembalun, terhadap kopi. Pergeseran ini dinilai sebagai respons terhadap perkembangan pariwisata Sembalun.
"Sekarang kopi ini menjadi gaya hidup. Sehingga banyak petani yang mulai mengembangkan kopi. Terutama petani milenial. Karena dalam kurun waktu empat tahun terakhir ini harga kopi tetap stabil," terang Rusmala.
Harga kopi khususnya Arabika untuk green bean berada di kisaran Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu per kilogram. Hal ini menjadi salah satu daya tarik bagi petani untuk kembali beralih menanam kopi. Penanaman kopi banyak memanfaatkan lahan kering. Sementara lahan subur dimanfaatkan untuk menanam sayur.
Para petani kopi saat ini juga banyak beralih mengembangkan varietas Arabika jenis baru, yakni Ateng super. Varietas ini dinilai lebih produktif dan buahnya lebih lebat dibandingkan varietas lokal seperti jenis Tivika yang produksinya mulai menurun.
"Salah satu keunggulan kopi Sembalun adalah rasanya, ini disebabkan faktor ketinggian di atas 1.000 mdpl," katanya.
Selain varietas dan ketinggian, proses pengolahan pascapanen juga dinilai sangat menentukan kualitas dan rasa kopi. Kesalahan dalam pengolahan dapat merusak nilai jual kopi yang sudah bagus sejak dari pohon. Karena itu, pengolahan pascapanen harus dilakukan dengan kehati-hatian.
Selain varietas, petani kopi Sembalun juga mulai mengubah model penanaman. Dari model tanam biasa menjadi menggunakan sistem pagar. Dengan sistem ini, dalam satu hektare lahan bisa menampung lebih dari 4.000 pohon. Potensinya diperkirakan mencapai 2 ton per hektare.
"Sementara dengan harga pasar sekarang Rp 100-200 ribu per kilogram, kan lumayan pendapatan petani," katanya.
Potensi pasar lokal dan nasional sangat besar. Namun untuk menembus pasar internasional, petani masih terkendala biaya logistik dan perizinan yang cukup mahal. Karena itu, pemerintah diharapkan tidak hanya memberikan bantuan fisik, tetapi juga pendampingan teknis dan kemudahan akses pasar global.
"Kendala kita ke luar negeri, pengiriman dan izin yang cukup mahal. Kami berharap pemerintah mempermudah izin dan menekan biaya pengiriman agar kopi Sembalun bisa mendunia," tutupnya. (par/r7)
Editor : Redaksi Lombok Post