Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Melihat Cara Masyarakat Desa Ketangga Merayakan Lebaran Topat

Supardi/Bapak Qila • Senin, 30 Maret 2026 | 19:02 WIB

LEBARAN TOPAT: Sejumlah anak-anak di Desa Ketangga, Kecamatan Suela sedang mengikuti doa dan zikir yang dilanjutkan dengan makan bersama di masjid saat Lebaran Topat.
LEBARAN TOPAT: Sejumlah anak-anak di Desa Ketangga, Kecamatan Suela sedang mengikuti doa dan zikir yang dilanjutkan dengan makan bersama di masjid saat Lebaran Topat.

LombokPost - Takbir kembali menggema di Desa Ketangga, Lombok Timur (Lotim), meski Idul Fitri telah berlalu sepekan lebih. Takbir itu sebagai penanda perayaan Lebaran Topat. Ini bukan sekadar tradisi, tetapi ruang kebersamaan yang menempatkan anak-anak sebagai bagian utama perayaan.

Sejak pagi, anak-anak memadati area masjid. Mereka mengenakan pakaian terbaik layaknya Hari Raya Idul Fitri. Namun hari itu mereka merayakan Lebaran Topat atau lebaran setelah puasa sunah setelah Idul Fitri.

Berbeda dengan Lebaran Idul Fitri, Lebaran Topat hanya diisi doa dan zikir. Kegiatan kemudian dilanjutkan makan bersama di masjid atau musala.

Tokoh Adat Desa Ketangga sekaligus penjaga Masjid Pusaka Hasbi, Asbi mengatakan, perayaan Lebaran Topat identik dengan kemeriahan yang dipusatkan pada anak-anak. Masyarakat bahkan menyebutnya sebagai lebaran anak-anak.

"Kalau Idul Fitri ketika selesai hari raya, anak-anak ikut orang tua ke rumah sanak saudara. Tapi kalau Lebaran Topat ini, mereka sangat berperan untuk menghidangkan makanan," terang Asbi.

Kata dia, Lebaran Topat menjadi ajang mengenang anak-anak yang sudah meninggal dunia. Dalam perayaan ini setiap keluarga menyiapkan makanan khas, yakni Topat Telok yang harus ada di setiap dulang. Hal ini memiliki makna dan filosofi tersendiri.

Bahkan jumlah ketupat yang dihidangkan di dulang tergantung jumlah anak yang hidup maupun yang sudah meninggal dari masing-masing keluarga.

"Selain untuk mengumpulkan anak-anak dan cucu kami, Lebaran Topat ini menjadi cara kami mengenang arwah anak-anak yang sudah meninggal di dalam keluarga," jelasnya.

Tradisi Lebaran Topat juga dilaksanakan sebagai bentuk syukur masyarakat atas nikmat dan berkah dari Allah SWT. Terutama nikmat menjalankan ibadah puasa Ramadan dan puasa sunah Syawal.

Tradisi ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi yang lebih luas. Tidak terbatas pada keluarga inti. Pada momentum Lebaran Topat, rumah-rumah warga terbuka bagi siapa saja yang datang menikmati ketupat.

"Maknanya ini agar hubungan antara sesama masyarakat dan anak-anak semakin erat dengan makan bersama di satu tempat," tuturnya.

Melalui Lebaran Topat, tradisi ini menjadi cara mengenalkan nilai budaya dan tempat ibadah kepada anak-anak. Sehingga diharapkan tetap terjaga di tengah masyarakat, terutama di tengah gempuran budaya modern.

"Lebaran topat adalah warisan yang harus dijaga. Kami berharap generasi muda tetap menjaga makna esensial dari tradisi tersebut, " Jelasnya.

Lebaran Topat tidak hanya menjadi ritual keagamaan yang dilakukan setiap tahun. Namun juga menjadi ruang tumbuh kembang nilai sosial dan budaya anak di Desa Ketangga. (*/r7)

Editor : Prihadi Zoldic
#lebaran #Sywalan #Lebaran Topat #Dulang #Lotim