Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Perjalanan Rifai Membangun Pariwisata Lendang Nangka Utara

Supardi/Bapak Qila • Selasa, 21 April 2026 | 16:04 WIB
LENTERA LOMBOK: Rifai pengelola Lentera Lombok Desa Lendang Nangka Utara saat duduk di gazebo depan penginapannya. (SUPARDI/LOMBOK POST)
LENTERA LOMBOK: Rifai pengelola Lentera Lombok Desa Lendang Nangka Utara saat duduk di gazebo depan penginapannya. (SUPARDI/LOMBOK POST)

LombokPost - Hamparan nanas yang tumbuh subur di Desa Lendang Nangka Utara tak lagi sekadar pemandangan biasa. Dari kebun-kebun sederhana itulah, denyut baru pariwisata perlahan lahir, membawa desa ini bertransformasi dari tempat singgah menjadi tujuan yang mulai dilirik wisatawan mancanegara.

Sepanjang jalan Desa Lendang Nangka Utara, hamparan tanaman nanas tumbuh subur di kebun-kebun warga. Sebagian sudah berbuah dan siap panen, sebagian lainnya masih dalam masa tanam. Tanaman nanas itu berdampingan dengan komoditas lain seperti alpukat dan durian, membentuk lanskap hijau yang memanjakan mata.

Pemandangan tersebut perlahan menjadi daya tarik tersendiri. Desa yang dulunya hanya menjadi tempat singgah, kini mulai dilirik wisatawan, termasuk pelancong mancanegara. Seiring itu, masyarakat setempat mulai mengembangkan sektor pariwisata dengan membangun penginapan.

Baca Juga: Ekas Sunset Trail Run Jadi Event Tahunan, Wakil Bupati Lotim Ungkap Rencana Promosi Wisata Selatan

Salah satunya Rifai pemilik Lentera Lombok. Ia menceritakan, sebelum terjun ke dunia pariwisata, dirinya fokus mengembangkan produk olahan nanas. Berbagai produk dibuat, mulai dari keripik nanas, selai, hingga kerupuk berbahan dasar nanas.

“Olahan nanas itu kemudian kami masukkan ke penginapan-penginapan yang ada di desa wisata, seperti Tetebatu, Jeruk Manis sebagai suvenir,” katanya ditemui di penginapannya.

Kemampuan mengolah nanas diperoleh secara otodidak melalui internet. Di awal merintis usaha, ia kerap mengalami kerugian. Namun seiring waktu, permintaan terus meningkat hingga ia kewalahan memenuhi pesanan.

Baca Juga: Setelah Ramai, Dispar Lotim Ambil Alih Pengelolaan Wisata SLL dan Diberikan kepada Investor

Usahanya kemudian berkembang. Tempat produksi miliknya bahkan kerap dijadikan lokasi praktik mahasiswa dari berbagai kampus. Namun keterbatasan ruang di rumah membuatnya berpikir untuk membangun rumah produksi yang lebih representatif.

“Sejak itu saya tidak lagi produksi, saya kemudian fokus ke pariwisata. Namun sekarang saya sedang merintis untuk buat rumah produksi yang dekat dengan penginapan,” jelasnya.

Berlatar belakang sebagai guru bahasa Inggris, Rifai sempat bekerja di salah satu penginapan di Desa Kembang Kuning. Ia belajar langsung mengenai manajemen penginapan, pelayanan tamu, hingga penataan kamar.

Baca Juga: Event Bejango Desa Anjani Wujud Upaya Jadi Mandiri, Lotim Punya 101 Desa Wisata

Setelah memahami pengelolaan, ia menyulap lahan bekas tambang galian menjadi penginapan. Meski lokasinya tidak berada di pinggir jalan utama dan tergolong baru, penginapan tersebut hampir setiap hari menerima tamu asing.

“Jarang sepi tamu. Dalam sebulan paling sepi sekitar 18 sampai 19 orang. Kalau sudah ramai, seperti Agustus sampai Januari, hampir setiap hari penuh,” katanya.

Bagi Rifai, pengalaman wisata tidak hanya soal menikmati alam. Para tamu justru diajak berbaur dengan kehidupan masyarakat. Mereka diajak mengikuti berbagai aktivitas warga, mulai dari begawe, menjenguk warga sakit, hingga mengikuti zikiran.

Bahkan, tidak sedikit tamu asing yang menginisiasi kegiatan sosial selama menginap. Mulai dari santunan anak yatim, bantuan untuk lansia, hingga donasi pembangunan masjid.

“Mereka sangat tertarik dengan aktivitas masyarakat. Pariwisata tidak selalu identik dengan hal negatif, dan dampaknya tidak hanya bagi kami, tapi juga masyarakat,” katanya.

Selain aktivitas sosial, tamu juga diperkenalkan dengan adat dan budaya setempat, termasuk etika berpakaian. Hal ini membuat wisatawan yang datang cenderung menghormati norma lokal.

Perlahan, Desa Lendang Nangka Utara mulai bertransformasi. Dari sekadar tempat singgah, kini berkembang menjadi desa wisata yang hidup. Kesadaran masyarakat terhadap peluang pariwisata juga mulai tumbuh.

“Dulu di sini cuma saya yang punya penginapan. Sekarang sudah ada sekitar tiga orang. Ada yang kecil, ada juga yang sudah besar. Kalau sudah berkembang, kesadaran menjaga kebersihan akan ikut tumbuh,” jelasnya.

Ke depan, pengembangan pariwisata diharapkan tidak hanya berdampak pada pemilik penginapan, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat luas, mulai dari pelaku UMKM, petani, hingga warga sekitar. (SUPARDI, Lombok Timur/r7)

Editor : Redaksi
#wisatawan #penginapan #Mancanegara #Lendang Nangka Utara #Pariwisata