Lombokpost-Pagi di Dusun Batu Tinja dimulai dengan langkah anak-anak menyusuri jalan terjal dan berdebu menuju sekolah. Mereka tetap belajar seperti biasa, meski hingga kini belum pernah merasakan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang sudah berjalan di banyak tempat lain.
Di tengah hamparan ladang jagung yang gersang, debu yang membumbung, dan terik yang menyengat, berdiri SDN 4 Selaparang dan SMPN 1 Satu Atap Suela di pelosok Lombok Timur (Lotim). Tepatnya di RT Lendang Belo, Dusun Batu Tinja, Desa Selaparang, Kecamatan Suela, sekolah ini tetap menjalankan proses belajar mengajar seperti biasa, meski berada di wilayah terpencil, terjauh, dan terluar (3T).
Setiap hari, siswa harus menempuh jalan terjal, berdebu saat kemarau, dan becek ketika hujan, sejauh berkilo-kilometer demi bisa bersekolah. Semangat mereka tak pernah surut. Namun di balik itu, ada satu hal yang belum pernah mereka rasakan, program MBG yang sudah lebih dari setahun berjalan di berbagai daerah.
Baca Juga: Reses Lale Syifa di Lobar, Warga Keluhkan Anggaran MBG Hingga Lonjakan Harga Hingga Gas Elpiji
Seorang guru SDN 4 Selaparang Iman mengatakan, hingga saat ini siswa-siswinya belum pernah menikmati program MBG, meski sekolah lain sudah merasakannya. "Sudah setahun, tapi anak-anak di sini belum pernah merasakan MBG," terang Iman, Selasa (5/5).
Sejak program tersebut diluncurkan, sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sempat meminta data siswa di sekolah itu. Namun, setelah data diberikan, tidak ada tindak lanjut.
Iman mengaku sedih setiap melihat mobil berlogo Badan Gizi Nasional (BGN) bolak-balik mengantar makanan ke sekolah lain. Bukan soal makanan, tetapi rasa ketidakadilan yang ia rasakan.
Baca Juga: Pendidikan Nasional; KHD dan MBG?
"Sedih saya setiap melihat mobil MBG keluar masuk di sekolah-sekolah lain, sementara hanya kami yang belum dapat," tuturnya.
Harapan anak-anak sempat tumbuh ketika sebuah mobil masuk ke halaman sekolah beberapa waktu lalu. Mereka riuh dan bersemangat, mengira itu mobil pengantar MBG. Namun harapan itu kembali pupus.
Hampir setiap hari, siswa bertanya kapan mereka akan mendapatkan program tersebut. Pertanyaan yang kerap membuat gurunya terdiam. Kini, pertanyaan itu perlahan menghilang.
Baca Juga: Mengintip Rahasia SPPG Karang Bongkot yang Bikin Ribuan Siswa Ketagihan Santap MBG
"Mungkin mereka sudah bosan bertanya soal MBG ini. Kami tidak tahu apa alasan dapur terdekat belum mengantarkan MBG ke sini,” katanya.
Menurut Iman, kondisi geografis menjadi salah satu kendala. Lokasi sekolah yang jauh dari desa induk dan kecamatan, serta akses jalan yang buruk, diduga membuat distribusi MBG belum menjangkau wilayah tersebut.
“Mungkin karena kondisi jalan yang sangat buruk dan lokasi sekolah yang berada di tempat terpencil. Jumlah siswa di dua sekolah ini sekitar 70 orang,” tutupnya.
Baca Juga: Dapur MBG Ramai-Ramai Urus Sertifikat Higiene, Dikes Mataram Pastikan Tak Ada "Jalur Belakang"
Plt Kepala UPTD Dikbud Kecamatan Suela Mohamad Sakban mengatakan, dua sekolah tersebut masuk kategori 3T sehingga akan mendapatkan MBG kategori 3T. Pihaknya mengaku terus berupaya mengakomodasi kebutuhan siswa di sekolah tersebut.
"Kami belum tahu pasti kapan program MBG 3T itu dijalankan. Tetapi untuk sementara boleh sekolah tersebut masuk ke dapur terdekat,” ujarnya. (*/r7)
Editor : Prihadi Zoldic