LombokPost-Irfan Sohandi hampir saja tidak sampai ke barisan itu. Setelah lulus MTs, remaja 17 tahun asal Keruak ini sempat mengira sekolah bukan lagi jalan yang bisa ia pilih. Di rumah kakek dan neneknya, ia mulai menimbang pekerjaan, bukan lagi ruang kelas yang bisa mewujudkan impiannya.
Jam baru menunjukkan pukul 07.15 Wita. Puluhan siswa berseragam merah putih lengkap dengan topi sudah berbaris rapi di depan gedung sekolah. Sepintas, seragam mereka mirip seragam sekolah kedinasan. Gagah. Berwibawa.
Di barisan itu, ada Irfan Sohandi. Usianya 17 tahun. Ia berasal dari Desa Mendana Raya, Kecamatan Keruak. Kini, Irfan menjadi salah satu siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 38 Lombok Timur (Lotim).
Baca Juga: Legislator Udayana dan Senayan Dukung Pembangunan Sekolah Rakyat di Sumbawa
Jalan Irfan sampai ke sekolah itu tidak mudah. Ceritanya bermula saat ia masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs) di salah satu Pondok Pesantren (Ponpes) di Kecamatan Sakra. Saat itu, ia baru selesai mengikuti ujian akhir semester. Ia tinggal menunggu pengumuman kelulusan.
Di masa penantian itu, kegelisahan mulai datang. Irfan memikirkan nasib pendidikannya setelah lulus MTs. Keinginannya untuk melanjutkan sekolah begitu besar. Namun, kondisi ekonomi keluarga membuat harapan itu terasa jauh.
“Di sana saya mulai berpikir untuk melanjutkan sekolah di mana. Sementara kondisi ekonomi keluarga sedang sulit, untuk makan saja susah apalagi untuk sekolah,” beber Irfan kepada Lombok Post saat ditemui di sekolahnya, Selasa (2/6).
Baca Juga: Pembangunan Sekolah Rakyat KLU Kejar Target Peluncuran Nasional
Sejak kecil, Irfan sudah akrab dengan kehidupan yang tidak mudah. Orang tuanya berpisah. Kini, kedua orang tuanya sudah memiliki keluarga masing-masing. Sejak masih SD, Irfan bersama sang adik tinggal dengan kakek dan neneknya.
“Sejak kecil saya ditinggal pergi sama ayah dan sampai sekarang tidak pernah bertemu. Ibu sudah nikah lagi. Pekerjaan kakek hanya buruh lepas dengan penghasilan tidak menentu,” jelasnya.
Irfan sempat menyampaikan keinginan melanjutkan sekolah ke SMKN. Ia ingin mengambil jurusan perhotelan. Namun, keluarga tidak mampu mewujudkan keinginan itu karena keterbatasan ekonomi.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Menengah Atas 38 Lombok Timur Mulai Jaring Siswa Baru
Pelan-pelan, Irfan mulai mengubur keinginan untuk sekolah. Ia juga menahan cita-citanya menjadi pelaku wisata sukses. Setelah lulus MTs, ia sempat ingin bekerja sebagai kuli bangunan di Bali bersama temannya. Tujuannya hanya satu, membantu keluarga.
“Bahkan saya sempat mendaftar pekerja migran Indonesia (PMI) bersama paman. Saya sadar, usia saya belum bisa ke luar negeri, bahkan belum bisa buat KTP. Tetapi mau bagaimana lagi, ekonomi sangat mendesak,” jelasnya.
Pria kelahiran 2009 itu sudah hampir membulatkan niat menjadi PMI. Namun, keinginan untuk sekolah tidak benar-benar padam. Pikiran itu terus datang. Membuatnya sedih. Membuatnya merenungi nasib.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Lombok Tengah Ditargetkan Beroperasi 2027
Di tengah keputusasaan itu, Irfan memilih mengetuk pintu langit. Setiap malam, ia bangun untuk salat tahajud. Ia berdoa agar Tuhan memberikan jalan terbaik. Irfan percaya, setiap kesusahan memiliki jalan keluar yang disiapkan Tuhan.
“Selama seminggu saya bangun salat tahajud meminta kepada Allah agar diberikan jalan keluar. Setiap salat hanya itu permintaan saya. Ya Allah jika Engkau mengizinkan untuk sekolah, maka izinkan dan permudahlah,” bebernya.
Paginya, Irfan berniat mencari pamannya. Ia ingin menanyakan jadwal pembuatan paspor untuk berangkat ke Malaysia. Namun, langkah hidupnya berbelok. Petugas pendamping PKH datang mencari Irfan dan sang kakek.
Baca Juga: Kuota Sekolah Rakyat Dasar Lombok Timur Hanya 100 Siswa, Dinsos Minta Tambahan
Saat itu, Irfan mendapat tawaran dan penjelasan tentang program Sekolah Rakyat. Tanpa pikir panjang, ia langsung menerima tawaran untuk sekolah di SRMA 38 Lotim.
Program itu masih baru. Irfan juga menjadi murid pertama di SRMA. Namun, ia yakin negara menyiapkan hal terbaik baginya. Ia juga meyakini ini jalan yang ditunjukkan Tuhan untuk mengubah keadaannya di masa mendatang.
“Dan di SRMA ini jurusan yang saya inginkan sejak masih MTs itu ternyata tersedia juga, seperti bahasa Inggris dan perhotelan atau pariwisata. Ini yang membuat saya semakin senang,” jelasnya.
Baca Juga: Menteri PU: Proyek Sekolah Rakyat Harus Tuntas Sesuai Target
Sejak mengikuti program di SRMA, Irfan mengaku lebih semangat dan giat belajar. Fasilitasnya lengkap. Ia tinggal di asrama dan belajar di sekolah yang bersih. Irfan juga tidak perlu lagi memikirkan bekal yang harus dibawa ke asrama saat pulang, seperti ketika masih di Ponpes. Semua sudah disiapkan negara.
Kesempatan itu tidak disia-siakan. Irfan belajar lebih giat. Kegigihan itu mulai berbuah. Kini, ia menjadi salah satu siswa berprestasi di SRMA 38 Lotim.
Pada Olimpiade Pancasila, Irfan meraih medali emas tingkat kabupaten. Ia juga meraih medali perunggu tingkat provinsi. Kini, ia lolos mewakili NTB pada Olimpiade Pancasila tingkat nasional. Beberapa lomba yang pernah ia ikuti juga berhasil menorehkan prestasi.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Jadi Senjata Baru Hapus Kemiskinan Ekstrem
“Saya tidak bisa ungkapkan dengan kata-kata rasa syukur dan bahagia saya untuk bisa sekolah lagi dan bisa (optimis) menatap masa depan. InsyaAllah cita-cita saya akan terwujud dari sini,” tutupnya. (*/r7)
Editor : Redaksi Lombok Post