LombokPost-Membaca buku di ruang publik sering terasa asing. Bahkan kadang dianggap aneh. Nah, stigma itu coba dipatahkan puluhan komunitas literasi dari kegiatan baca buku bersama di Taman Tugu Selong.
Ratusan buku berjejer di atas karpet yang digelar di tengah Taman Tugu Selong sore itu. Ada buku anak-anak, buku pelajaran, novel, dan berbagai bacaan lain. Buku-buku itu membuat sebagian pengunjung yang tengah beraktivitas tertarik mendekat. Anak-anak pun ikut membaca.
Ratusan buku itu sengaja digelar puluhan komunitas literasi di Lombok Timur (Lotim) dalam acara Membaca Bersama se-Lotim. Acara ini dihajatkan untuk meningkatkan minat baca masyarakat Lotim. Juga menormalisasi kegiatan membaca buku di tempat umum.
Koordinator acara Membaca Bersama se-Lotim Lalu Abdul Fatah menyampaikan, kegiatan ini bermula dari keinginan komunitas literasi di Lotim untuk menyelenggarakan baca senyap. Peserta hanya fokus membaca buku. Tidak perlu ada diskusi, bedah buku, atau presentasi.
"Namun setelah kami lempar ke teman-teman komunitas literasi yang lain, mereka ingin juga diwadahi ruang untuk berdiskusi juga, makanya lahirlah acara ini," jelas Lalu Abdul Fatah.
Kegiatan itu dibagi menjadi tiga zona. Yakni zona baca senyap, zona baca nyaring, dan zona diskusi. Setelah membaca, para pegiat literasi juga berdiskusi mengenai literasi di Lotim.
Baca Juga: Membaca Percepatan Pertumbuhan Ekonomi NTB dari Triwulan I-2025 ke Triwulan I-2026
Fatah menjelaskan, kegiatan baca senyap digagas setelah terinspirasi dari Silent Book Club. Sebuah gerakan membaca yang berkembang di Amerika, lalu menyebar ke berbagai negara.
"Itu yang kemudian coba kita gagas dengan melakukan baca senyap, tapi ternyata ini terkait dengan kultur kita juga, tidak asyik juga rasanya kalau kumpul baca buku tidak berbagi bacaan. Sehingga muncullah ide untuk membaca, diskusi, kemudian membaca nyaring," katanya.
Zona baca nyaring lebih identik dengan anak-anak. Pada zona ini, anak-anak tidak harus membaca sendiri. Mereka juga bisa dibacakan buku oleh orang tua langsung atau para pegiat literasi.
Baca Juga: Paradoks Hormuz: Membaca Sinyal Global dari Mandalika
Sebanyak 31 organisasi dari berbagai kecamatan di Lotim ikut dalam kegiatan ini. Masing-masing komunitas memiliki zona. Bahkan, salah satu komunitas fokus pada permainan dan edukasi anak-anak.
"Karena anak-anak tidak semuanya fokus dan konsentrasi tinggi dalam membaca, jadi perlu diwadahi lewat permainan-permainan edukasi," jelasnya.
Fatah menyebut, kegiatan baca bersama ini perdana digelar. Selain meningkatkan minat baca masyarakat, kegiatan ini juga bertujuan menormalisasi membaca buku di tempat umum. Sebab, membaca buku di ruang publik kerap mendapat penghakiman. Dianggap sok rajin, sok baca buku, dan lainnya.
Baca Juga: Hilirisasi Inklusif: Membaca Arah Baru Ekonomi NTB
Kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi para pegiat literasi se-Lotim. Selama ini, mereka bergerak di kampung masing-masing. Lewat acara baca bersama, kegiatan
"Kami punya mimpi suatu saat, kegiatan literasi ini seperti kegiatan Festival Muharram. Literasi itu digabungkan dengan musik. Dengan syarat untuk bisa menonton musik itu harus membeli buku. Mudah-mudahan ini suatu saat bisa terwujud," harapnya. (*/r7)
Editor : Kimda Farida