LombokPost-Bengkel Mercusuar Paokmotong menyimpan cerita panjang sepeda bekas di Lombok Timur. Dari usaha warisan sejak 1977, Naofal Hayaza bertahan melewati masa sepi, menjamurnya toko sepeda baru, hingga tren sepeda listrik.
Kini, tren balap sepeda ontel di kalangan anak-anak kembali memberi napas bagi bengkel tua itu.
Tak jauh dari simpang empat jalan raya Desa Paokmotong, Kecamatan Masbagik, sebuah bangunan tanpa pintu dipenuhi bangkai sepeda yang menggunung.
Bangunan itu nyaris tak terlihat. Berbagai model dan ukuran sepeda bekas menumpuk di sekelilingnya.
Di tengah tumpukan itu, seorang pria paro baya sibuk merakit bagian demi bagian sepeda. Beberapa sepeda tampak sudah siap dipasarkan. Sebagian lain sengaja dibiarkan tanpa roda dan kepala.
Baca Juga: Cerita dari Festival Sate Tanjung Lombok. Sulap Menu Rumahan Jadi Juara
Dialah Naofal Hayaza. Pemilik bengkel sepeda Mercusuar Paokmotong. Bengkel sepeda bekas tertua di Lombok Timur.
Naofal menceritakan, bengkel itu berdiri sejak 1977.
Bahkan, sebelum ia lahir, bengkel itu sudah ada. Usaha jual beli dan servis sepeda bekas itu ia warisi langsung dari sang ayah. Ia menjadi generasi kedua yang meneruskan usaha keluarga itu.
"Semua ilmu servis sepeda saya dapatkan dari bapak saya. Sebagian juga saya pelajari secara otodidak," ungkap Naofal, Selasa (7/7).
Baca Juga: Cerita Yosi Eka Kurniawati Menyulap Jamu Ibu Melahirkan Jadi Camilan Premium Ekspor
Sejak berdiri, hampir tidak ada yang berubah dari bengkel itu. Mulai dari bangunan, posisi, hingga luasnya. Pintu bengkel yang terbuat dari papan sudah tidak bisa ditutup karena dimakan rayap. Plafon bangunan juga mulai berjatuhan.
Ia mengaku sempat tidak ingin melanjutkan usaha itu. Ia justru ingin merantau ke luar negeri. Sebab, hasil dari bengkel dinilai tidak sebanding dengan pekerjaan dan biaya yang dikeluarkan.
"Tetapi tidak diizinkan (keluarga) jadi saya terima saja. Saya mulai fokus di bengkel sekitar tahun 2007," terang pria keturunan Yaman itu.
Baca Juga: Puspita Mustika Adya, Dari Koma, Amnesia, sampai ke Dokter Sepeda
Sekitar tahun 1980 hingga 1990-an, permintaan sepeda cukup tinggi. Saat itu kendaraan belum terlalu banyak. Sepeda menjadi salah satu alat transportasi masyarakat. Masa itu menjadi tahun kejayaan sepeda.
Kata dia, meski hanya menjual sepeda bekas, pembeli masih tetap ada. Padahal, toko sepeda baru di Lombok Timur mulai menjamur. Apalagi, saat ini tren sepeda sedang naik.
"Alhamdulillah masih banyak yang percaya dengan kualitas sepeda kami. Walaupun sepeda bekas. Tetapi kualitasnya tidak jauh beda dengan yang baru," ungkapnya.
Baca Juga: Jangan Dianggap Enteng, Ini 5 Manfaat Penting Buku Pedoman Pemilik dan Garansi Sepeda Motor
Belakangan ini, permintaan sepeda di bengkelnya cukup tinggi. Dipicu dari tren balapan anak-anak menggunakan sepeda tanpa sadel atau tempat duduk. Mereka menyebutnya balap sepeda ontel.
Tidak sedikit masyarakat rela membeli sepeda dalam bentuk kerangka dengan harga mahal. Ia mencontohkan, kerangka BMX jenis Polygon saat ini bisa dijual dengan harga lebih dari Rp 1 juta.
"Yang mereka cari justru hanya kerangka saja. Mereka yang rakit sendiri dibelikan velg sendiri, cat sendiri. Mereka juga cari setang sendiri," katanya.
Baca Juga: Komisi II Dorong Regulasi Sepeda Listrik di Kawasan Tiga Gili
Tren balap sepeda membuat pendapatannya meningkat. Biasanya, ia mendapat Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu sehari. Kini, penghasilannya bisa mencapai Rp 1,5 juta hingga lebih dari Rp 2 juta per hari, dari jasa servis maupun jual beli sepeda bekas.
Selain tren balap sepeda, permintaan sepeda juga memiliki musim ramai. Biasanya saat bulan puasa, maulid, dan akhir semester II. Terutama ketika anak-anak sekolah menerima tabungan.
"Kalau sudah waktunya bagi tabungan biasanya yang servis, tukar tambah maupun yang beli akan ramai. Dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain. Tetapi untuk mendapatkan barang atau bahan sepeda saat ini cukup sulit, karena banyak saingan," ujarnya.
Keberadaan sepeda listrik yang kini banyak digunakan anak-anak tidak terlalu berpengaruh baginya. Harga sepeda listrik yang cukup mahal membuat masyarakat berpikir ulang untuk membeli.
Baca Juga: Beli Sepeda Motor, Gratis Perlengkapan Safety Riding dari Astra Motor NTB
"Ada anak-anak juga yang memang tidak berani dan tidak mau pakai sepeda listrik karena malas cas baterai," katanya. (*/r7)
Editor : Kimda Farida