LombokPost - Pengerakse Gawar Kemalik Gunung Selong (PGKGS) Sembalun menyiapkan ribuan bibit kopi untuk komunitas petani dan masyarakat di Kecamatan Sembalun. Langkah ini menjadi upaya pemulihan ekologi sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat.
"Kami menyiapkan benih kopi arabika dan kopi jenis gayo di kebun bibit rakyat. Setelah siap tanam kita akan bagikan gratis kepada komunitas-komunitas atau masyarakat umum di Sembalun," terang Ketua PGKGS Sembalun Khairil Basri, Kamis (9/7).
Jumlah bibit kopi yang disiapkan sebanyak 7 ribu untuk varietas arabika Sembalun asli dan 2 ribu bibit kopi Gayo. Jenis arabika dipilih karena dinilai sesuai dengan kondisi lahan dan ketinggian tanah di wilayah Sembalun.
Khairil menjelaskan, tujuan utama pembagian bibit kopi untuk konservasi dan pemulihan lingkungan di Kecamatan Sembalun. Wilayah ini dinilai menghadapi berbagai persoalan ekologis. Mulai dari alih fungsi lahan, konflik agraria, hingga dampak pembangunan pariwisata yang dinilai kurang terkontrol.
"Kalau kita lihat di Sembalun, banyak bukit yang dikeruk dan pembangunannya ugal-ugalan. Itu terjadi sebagian di wilayah hulu yang seharusnya menjadi tempat penyerapan air," tambahnya.
Kopi dipilih sebagai tanaman konservasi karena dinilai memberikan keuntungan ekonomi jangka panjang bagi komunitas petani dan masyarakat setempat. Jika konservasi dilakukan dengan membagikan pohon jenis lain, dikhawatirkan masyarakat tidak mau menjaga dan merawatnya dengan baik.
"Di samping menanam kopi, mereka mendapatkan dampak ekonomis. Hasil kopinya kan bisa dijual besok," jelasnya.
Pembagian bibit kepada komunitas petani dinilai sebagai langkah strategis. Ketika kopi ditanam dan dirawat masyarakat sendiri, rasa memiliki akan tumbuh. Dengan begitu, kelestarian tanaman dapat terjaga dengan baik.
Khairil menegaskan, siapa saja boleh mengambil bibit kopi itu secara gratis. Terpenting, penerima merupakan masyarakat Sembalun dan betul-betul ingin menjaga serta merawat tanaman kopi sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan hidup.
"Kalau hasil panennya nanti terserah mereka, mau diapakan oleh petani, fokus kita hanya kepada konservasi saja," tutupnya.
Editor : Marthadi