Lombokapost-Melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM), Tim PKM Universitas Hamzanwadi memberikan pendampingan kepada puluhan penenun di Desa Pringgasela Timur, Kecamatan Pringgasela. Kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlanjutan warisan budaya kain tenun Pringgasela.
Puluhan perempuan memenuhi Gedung Sanggar Budaya Desa Pringgasela Timur, Kecamatan Pringgasela, sejak pagi. Usia mereka beragam. Mulai remaja, dewasa, hingga ibu-ibu. Tatapan mereka tertuju kepada pemateri yang berdiri di depan ruangan.
Mereka merupakan penenun kain songket khas Pringgasela. Hari itu, mereka mengikuti workshop dan pendampingan dari Tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Hamzanwadi.
Baca Juga: Universitas Hamzanwadi Jalin Kolaborasi Akademik dengan Universiti Kebangsaan Malaysia
Kegiatan membahas produksi dan pemasaran songket Pringgasela berbasis ekonomi hijau. Tim juga mendorong penguatan ekosistem perempuan penenun songket Pringgasela.
Ketua Tim PKM Universitas Hamzanwadi Dr Ramli Akhmad mengatakan, workshop dan pendampingan menjadi implementasi program kemitraan masyarakat. Program itu mendapat pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
“Kegiatan workshop ini menghadirkan dua narasumber. Narasumber pertama membahas terkait produksi dan pemasaran. Kemudian narasumber kedua terkait penguatan ekosistem perempuan penenun,” terang Dr Ramli Akhmad, Minggu (11/7).
Baca Juga: PKM Universitas Hamzanwadi Perkuat Ekosistem Songket Pringgasela
Dalam workshop itu, para penenun belajar memproduksi kain songket dengan memanfaatkan bahan alami. Salah satunya pada proses pewarnaan benang.
Penenun tidak menggunakan pewarna kimia. Mereka memanfaatkan berbagai jenis kulit kayu, daun, getah, dan bahan alami lainnya. Bahan itu dinilai lebih murah, kuat, dan aman.
Tim tidak hanya menghadirkan penenun berusia lanjut. Generasi muda yang melek digital juga dilibatkan. Kolaborasi antargenerasi itu diharapkan dapat membantu pemasaran produk tenun.
Baca Juga: Mahasiswa KKN Universitas Hamzanwadi Rampungkan Pengabdian, Tinggalkan Program Berkelanjutan
“Mungkin anak-anak muda ini secara produksi mereka tidak banyak terlibat. Namun paling tidak anak-anak penenun yang melek terhadap digital bisa membantu keluarga mereka untuk pemasaran melalui media sosial,” katanya.
Materi workshop juga berfokus pada peran perempuan dalam menjaga ekosistem tenun di Pringgasela. Upaya itu penting agar kain tenun sebagai warisan budaya tetap berkelanjutan dan menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Kegiatan tidak hanya berlangsung di dalam ruangan. Workshop selama dua hari itu juga dilanjutkan dengan kunjungan ke rumah para penenun. Tim sekaligus menyerahkan bantuan bahan dan alat tenun.
“Pada hari kedua ini kami menyerahkan bantuan alat dan bahan tenun kepada kelompok tenun yang ada di Pringgasela Timur. Melalui kelompok tenun mitra kami,” katanya.
Ketua Kelompok Berugak Balenta Tenun Hafifuddin Zuhri mengapresiasi pendampingan itu. Apalagi, minat remaja perempuan di Desa Pringgasela Timur untuk meneruskan tradisi menenun masih minim.
Anak-anak muda lebih senang melihat hasil produksi tenun. Namun, ketertarikan mereka untuk menjadi penenun hampir tidak ada.
“Melalui kegiatan seperti inilah kita ingin membangun kesadaran mereka dan memperkuat budaya sesek (menenun) Pringgasela ini,” katanya. (*/r7)
Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post