Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

5 Permainan Tradisional dari Lombok Timur Lengkap dengan Aturan Mainnya, Coba Cek Mana yang Pernah Anda Mainkan

Rury Anjas Andita • Minggu, 11 Mei 2025 | 11:51 WIB
Belanjakan salah satu permainan tradisional dari Lombok Timur.
Belanjakan salah satu permainan tradisional dari Lombok Timur.

LombokPost - Selain pariwisata, Kabupaten Lombok Timur juga memiliki banyak sekali potensi budaya.

Salah satu potensi budaya yang dimiliki Kabupaten Lombok Timur adalah permainan tradisional.

Berikut lima permainan tradisional yang sudah sangat jarang sekali dimainkan saat ini:

1. Belanjakan

Belanjakan adalah seni bela diri khas masyarakat Lombok.

Belanjakan memadukan seni bela diri gulat, yudo, dan pencak silat.

Pada zaman dulu belanjakan diadakan untuk mengisi waktu setelah panen dilakukan pada malam hari yang diberi lampu penerang berupa obor.

Belanjakan adalah adu fisik antar dua orang laki-laki yang menggunakan teknik tendangan, bantingan dan tepidan.

Tidak diperbolehkan menggunakan hantaman dengan tangan.

Belanjakan mirip dengan sumo baik secara teknik maupun pakaian yang dikenakan, bedanya sumo menggunakan dorongan dan bantingan.

Untuk belanjakan, pemain dilengkapi dengan pakaian yang disebut bekancut.

2.Besilo’an

Besilo’an adalah salah satu jenis permainan rakyat yang berkembang khususnya di kalangan anak-anak suku Sasak.

Besilo’an berasal dari kata silo’ atau julat yang berarti terbakar, jadi Besilo’an berarti kebakaran.

Permainan ini dilakukan dengan berkelompok, masing-masing terdiri dari empat orang.

Permainan tradisional besilo
Permainan tradisional besilo

Permainan dilakukan dengan cara menentukan terlebih dahulu menentukan kelompok mana yang akan dijaga berada di dalam garis, sedangkan yang lainnya di luar garis.

Anggota kelompok yang dijaga berusaha menerobos keluar, sementara yang lain menghalangi.

Apaabila dia bisa keluar dari garis penjagaan dan berbalik kembali ke tempat dimulainya permainan dan anggota kelompok yang lain tidak tertangkap, permainan berakhir atau silo’.

Demikian sebaliknya apabila ada salah satu seorang anggota yang tertangkap maka kelompok yang dijaga mengganti kelompok yang menjaga.

3.Keduk Keke

Keduk Keke adalah satu permainan anak-anak yang dilakukan pada siang hari.

Permainan dilakukan dengan cara satu lawan satu dengan peserta minimal dua orang dan maksimal empat orang.

Permainan tradisional keduk keke
Permainan tradisional keduk keke

Lidi atau kayu kecil ditancapkan pada gudukan tanah atau pasir yanh berada di tengah-tengah pemain.

Dengan menggunakan alat bantu berupa kayu atau lidi ataupun dengan jari tangan sendiri.

Setiap pemain mengeruk tumpukan tersebut sambil menyanyikan “keduk keke lendang bajo, sai ngepe ie kado”.

Apabila salah seorang pemaian menjantuhkan lidi/kayu maka dianggap kalah.

4.Cipuci-puci

Cipuci-puci adalah permainan anak-anak yang berumur 5-11 tahun.

Permainan ini dilakukan minimal tiga orang yang salah satunya akan diundi untuk memimpin jalannya permainan.

Permainan tradisional cipuci-puci
Permainan tradisional cipuci-puci

Peserta mengulurkan tangan ke depan, kemudian pemimpin memulai permainan dengan menunjuk tangan peserta sambil menyanyikan “cipuci-puci enjang-enjang bida deri, njelele-njelepong kami minta kembang apa.”

Jika kata apa...jatuh di tangan salah seorang anak maka anak itu harus meminta atau menyebutkan nama salah satu bunga (misalnya melati).

Maka pemimpin permainan menjawab dan melanjutkan kata-kata melati tersebut menjadi “lama-lama lakinya pulang sudah mati”.

5.Jumpring

Permainan ini biasanya dilakukan oleh lima orang anak yang diawali dengan ompimpang (salah satu cara mengundi).

Yang kalah harus telungkup sambil menutup mata di tanah, sedangkan yang menang akan memimpin permainan.

Dengan membawa kerikil, pemimpin memulai permainan dengan jalan menepuk-nepuk tangan peserta lainnya yang berada di atas punggung yang kalah sambil menyanyikan “jumpring cet-ecet ketibu dondong, aji pira telok sopoq”.

Begitu kalimat ini diselesaikan, batu yang tadi dipegang diletakkan dalam genggaman salah seorang peserta kemudian semuanya mengucapakan “aleem-aleem” secara berulang-ulang.

Yang telungkup kemudian bangkit dan harus menebak pada siapa batu diletakkan.

Apabila dia tidak dapat menebak, maka dia harus telungkup kembali.

Sebaliknya, jika tebakannya benar, maka anak yang ditebak dianggap kalah dan harus telungkup menggantikan temannya. (raa)

Editor : Rury Anjas Andita
#permainan tradisional #budaya #Lombok Timur #Pariwisata