LombokPost – Masyarakat Lombok, khususnya para pecinta seni tradisi, berduka.
Salah satu putra terbaiknya, H Lalu Nasib, seorang dalang sekaligus budayawan Sasak legendaris, telah berpulang ke Rahmatullah pada hari Jumat, 29 Agustus 2025, pukul 12.15 WITA.
Kabar duka ini menyisakan kesedihan mendalam, mengingat dedikasinya yang tak pernah padam dalam melestarikan budaya Sasak, terutama seni Wayang Sasak.
Kabar meninggalnya sosok yang akrab disapa "Guru Nasib" ini menyebar cepat di berbagai jejaring sosial dan grup komunikasi.
Ucapan belasungkawa mengalir dari berbagai kalangan, mulai dari seniman, budayawan, akademisi, hingga masyarakat umum yang pernah menyaksikan kepiawaiannya memainkan wayang dan mendengarkan kisah-kisah penuh makna yang ia bawakan.
Lalu Nasib dikenal luas sebagai dalang Wayang Sasak yang tak hanya mahir, tetapi juga memiliki pemahaman mendalam tentang filosofi dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Baca Juga: Sekolah Pedalangan Wayang Sasak Mengenalkan Wayang Sasak hingga Beijing (3-Habis)
Bagi banyak orang, ia bukan sekadar seniman pertunjukan, melainkan seorang guru yang mengajarkan kearifan lokal melalui setiap gerak wayang dan narasi yang ia lantunkan.
Wayang Sasak, yang merupakan seni pertunjukan boneka bayangan khas suku Sasak, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya.
Melalui seni ini, ia berhasil menyampaikan pesan moral, sejarah, dan nilai-nilai keagamaan kepada audiensnya.
Ia percaya, seni adalah media paling efektif untuk melestarikan budaya dan membentuk karakter generasi muda.
Tanpa lelah, ia berkeliling dari satu panggung ke panggung lainnya, memastikan seni tradisi ini tetap hidup dan relevan di tengah gempuran modernisasi.
Dedikasinya tidak hanya terbatas pada pementasan. Lalu Nasib juga aktif mendidik generasi baru, berbagi ilmu tentang cara membuat wayang, memainkan gamelan pengiring, dan tentu saja, mendalang dengan penuh penghayatan.
Warisan terbesarnya bukanlah piala atau penghargaan, melainkan benih-benih kecintaan terhadap budaya yang ia tanamkan pada banyak murid dan pengagumnya.
Sebagai seorang budayawan, Lalu Nasib dikenal sebagai sosok yang sederhana, ramah, dan rendah hati. Ia selalu terbuka untuk berdiskusi tentang Wayang Sasak, memberikan wawasan baru bagi siapa saja yang ingin belajar.
Kehadirannya di berbagai acara kebudayaan selalu membawa aura kehangatan dan inspirasi. Ia menunjukkan bahwa menjadi budayawan bukan hanya soal gelar, tetapi juga tentang pengabdian seumur hidup untuk menjaga identitas bangsa.
Hingga berita ini diturunkan, pihak keluarga masih bermusyawarah untuk menentukan waktu pemakaman dan salat jenazah.
Kepergian Lalu Nasib adalah kehilangan besar bagi dunia seni dan kebudayaan Lombok. Namun, semangat dan warisan yang ia tinggalkan akan terus hidup, menginspirasi para penerusnya untuk terus menjaga api Wayang Sasak agar tidak pernah padam.
Semoga amal ibadah dan dedikasinya diterima di sisi Allah SWT.
Editor : Kimda Farida