LombokPost — Iklim seni rupa Mataram kembali bergairah!
Menjelang penghujung tahun 2025, Taman Budaya NTB menyelenggarakan pameran lukisan bertajuk "MENGURAI... KEBEKUAN".
Acara ini bukan hanya etalase karya, tetapi juga upaya konkret untuk memecah kebekuan komunikasi dan proses kreatif di kalangan seniman lukis Kota Mataram, dari senior legendaris hingga talenta-talenta baru.
Kurator pameran, Agus Fn (seorang Penulis dan Pelukis), secara lugas menyebut bahwa pameran ini hadir untuk mengurai ketegangan proses kreatif yang telah lama "membeku" di kalangan seniman lukis.
Judul pameran sendiri terinspirasi dari lukisan senior Soewito Mukarni, “Odong-odong membawaku ke sini”.
Yang merekam momen kebersamaan melukis di tepi pantai, membawa pelukis tua dan muda berkumpul dan tertawa lepas.
Bukan Sekadar Pameran, Jembatan Lintas Generasi
Kepala Taman Budaya Provinsi NTB, Lalu Suryadi Mulawarman, S.Sn, M.M, menyambut baik pameran ini, berharap kegiatan guyub seperti ini dapat menciptakan iklim berkarya yang saling mensupport secara psikologis dan membangun dialog antar seniman.
Momen melukis bersama yang direkam kurator menjadi peristiwa penting. Para seniman senior, seperti I Gusti Lanang Putra, Nengah Kisid, Tonie Mursajid, Artha Kusuma, Soewito Mukarni, Satarudin, dan Esti Ebi Evolisa, berkumpul bersama juniornya.
Gusti Lanang Putra, misalnya, menghadirkan karya realis tentang obyek kampung di lereng Rinjani (karya 2007) dan karya terbarunya (2024) yang menggambarkan sosok tradisi berpose dengan gawai—sebuah tanda modernitas dan kegalauan yang mempengaruhi teknik melukisnya.
Lingsharta memamerkan karya realis naturalis yang kuat dan berkarakter, mengingatkan pada gaya peletak dasar seni lukis modern Lombok.
Satarudin Tacik hadir dengan gaya khasnya. Saat ditanya tekniknya, ia dengan santai menjawab: "teknik mantra."
Esti Ebi Evolisa, pelukis senior wanita, menampilkan gaya khas teknik dekoratif yang terinspirasi dari dunia batik yang juga ia geluti.
"Tunas Baru" dengan Gaya Beragam
Di sisi lain, pameran ini menjadi ajang belajar bagi tunas-tunas baru yang lahir dari kemandirian dan kecintaan, bukan hanya dari latar belakang akademis.
Karya-karya Pelukis Senior secara relatif sudah mapan, dan akan menjadi tempat belajar bagi penerusnya dalam banyak hal seperti sikap berkesenian, proses kreatif, hingga teknik.
Generasi muda hadir dengan karya beragam. Muzhar dengan eksplorasi mix media, Nuraisyah Naulida dengan sajian simbolik imajinatif, serta Wiwik dan Misre yang mencoba teknik ekspresif.
Ada pula nama-nama seperti Lalu Saukani, Agus Setiadi, Bambang Prasetya, Sarbini, dan Sukti, yang terus berproses memberi warna pada seni lukis NTB.
Secara keseluruhan, kehadiran seniman muda dan tua ini menegaskan kekayaan seni lukis Mataram saat ini dan masa depan. Pameran "MENGURAI... KEBEKUAN" terbukti berhasil memecah kebekuan komunikasi, kebekuan iklim berkarya, dan menyisakan semangat untuk terus berkarya.
Editor : Pujo Nugroho