LombokPost-Selandir Eco Team dari SMKN 1 Lingsar, Lombok Barat menjadi satu-satunya peserta tingkat sekolah menengah kejuruan yang mengikuti ajang kendaraan hemat energi Shell Eco-Marathon Asia Pasifik dan Timur Tengah 2024 di Sirkuit Internasional Mandalika.
Tim yang beranggotakan 16 orang itu mengikuti kategori Prototype dengan sumber energi baterai elektrik (BEV).
”Tentu kami merasa sangat bangga bisa ikut serta diajang ini, apalagi satu-satunya peserta tingkat SMK,” ujar Alvito Pataya salah satu anggota Selandir Eco Team pada wartawan di Sirkuit Internasional Mandalika, (3/7).
Guru Pembina Hangga Eva Harisaputra menambahkan, jika melihat bodi kendaraan peserta lain untuk timnya menampilkan kendaraan dengan bodi yang lebih aerodinamis.
Dengan tampilan desain mampu mengatasi kendala angin saat menjajal lintasan sirkuit.
”Jadi ketika angin menabrak bodi kendaraan, kondisi mobil tidak timbul gesekan. Tidak mengurangi kecepatan, justru menambah kecepatan mobil itu sendiri,” terangnya.
Menurut Hangga, mobil dari Selandir Eco Team akan mengikuti uji inspeksi teknis.
Mereka berharap bisa lolos dan mengaspal di lintasan sirkuit. Sebab dari prediksi tim, kecepatan mobil bisa mencapai 40 kilometer per jam dengan kapasitas baterai 84 Volt.
”Kami sengaja tidak mengatur lebih cepat lagi. Karena untuk lebih menghemat tenaga mobil. Semakin kita ngebut, energinya semakin besar,” jelasnya.
Hangga mengaku ini adalah kali pertama tim SMKN 1 Lingsar, Lobar ikut menjadi peserta dengan waktu persiapan selama empat bulan.
Meski begitu, pihaknya yakin bisa naik podium mengingat tingkat SMK tidak hanya sekadar mampu menganalisa namun siap dan mampu terjun ke dunia kerja.
”Saat ini yang terpenting bisa lolos untuk ikut race dulu. Kemudian berharap bisa juara pada kategori prototype untuk baterai elektrik,” ucapnya
Lebih lanjut, Hangga mengungkapkan anggaran yang dibutuhkan untuk merakit kendaraan ini mencapai Rp 50 juta.
Sejauh ini dukungan anggaran diberikan pihak sekolah, Bank NTB Syariah dan PDAM Giri Menang.
Jumlah ini diakui masih kurang karena membutuhkan anggaran lebih besar, semakin besar pendanaan maka tim bisa meriset kontroler.
”Jika kita diberikan banyak dana, maka merakit kontroler ini bisa dikembangkan lagi,” pungkasnya. (ewi/r12)
Editor : Kimda Farida