Lombok post- Sergio Ramos mengejutkan jagad sepak bola dan musik dengan merilis lagu rap berjudul Cibeles, yang langsung trending di YouTube. Lagu ini mengulang memori kebersamaan dengan Real Madrid, menyorot Plaza de Cibeles, dan menyiratkan sindiran tajam terhadap Presiden klub, Florentino Pérez. Kata kunci seperti Cibeles, Sergio Ramos, Real Madrid, dan Florentino Pérez hadir bergema di setiap baris, menjadi sorotan publik dan media.
Bek legendaris yang kini membela Monterrey di Liga Meksiko itu meluncurkan Cibeles melalui akun media sosial resminya pada 31 Agustus 2025. Video musiknya dirilis di YouTube dan langsung menjadi viral. Judul lagu merujuk pada Plaza de Cibeles di Madrid, tempat Ramos biasa merayakan gelar La Liga dan Liga Champions bersama Real Madrid. Dalam video, Ramos tampil dengan ekspresi serius, memegang kalung doa, dan berdiri di depan latar belakang kota Madrid yang gelap—sebuah simbol dari hubungan yang mulai retak sejak kepindahannya ke PSG.
Lagu ini disebut sebagai bentuk curahan hati. Beberapa bait lagunya terasa seperti sindiran langsung terhadap Florentino Pérez, yang disebut-sebut sebagai sosok yang mendorongnya keluar dari klub pada 2021. Salah satu baris berbunyi, "Ada hal-hal yang tak pernah aku katakan, yang masih menyakitkan. Aku tak pernah ingin pergi, tapi kau memintaku untuk terbang." Dalam bait lain, Ramos menyatakan, "Aku akan mati berdiri daripada hidup berlutut... dalam ceritamu aku adalah legenda."
Baca Juga: Ini Rencana Besar Florentino Jika Kesepakatan dengan Vinícius Gagal
Lirik-lirik tersebut membuat banyak penggemar dan media menilai bahwa Ramos belum benar-benar bisa melupakan cara kepergiannya dari Santiago Bernabéu. Ia seolah ingin mengatakan bahwa keputusannya untuk meninggalkan Madrid bukanlah kehendaknya sendiri, melainkan paksaan situasi. Banyak juga yang menilai lirik itu penuh nostalgia, amarah, dan cinta yang belum padam untuk klub yang sudah dibelanya selama 16 musim.
Video musik Cibeles langsung meledak di jagat maya, ditonton lebih dari 700 ribu kali hanya dalam sehari. Di kolom komentar, para penggemar terbagi dua. Sebagian memuji Ramos sebagai sosok jenius yang berani menyampaikan isi hati lewat musik, dan menyebut bahwa sejarah Real Madrid tak bisa ditulis tanpa menyebut namanya. Namun, sebagian lain menilai Ramos terlalu ingin menjadi pusat perhatian dan belum bisa move on dari masa lalunya di klub ibu kota Spanyol itu.
Baca Juga: Franco The New Messi Mastantuono Cetak Sejarah di Real Madrid!
Langkah Ramos ini menambah panjang daftar pemain sepak bola yang mencoba merambah dunia musik. Sebelumnya, nama-nama seperti Memphis Depay, Jesse Lingard, hingga Royston Drenthe juga pernah merilis lagu di luar aktivitas sepak bola mereka. Ramos tampaknya ingin menunjukkan bahwa sepak bola bukan satu-satunya jalan untuk mengekspresikan diri, dan bahwa musik bisa menjadi medium untuk menyampaikan pesan yang lebih personal.
Lagu Cibeles bukan sekadar karya musik, melainkan semacam pernyataan emosional dari seorang legenda yang merasa belum sepenuhnya dihargai di akhir pengabdiannya. Ramos membuktikan bahwa hubungan antara pemain dan klub besar seperti Real Madrid tak selalu berakhir dengan cerita manis. Dalam Cibeles, ia menyatukan kenangan, luka, dan pernyataan diri dalam satu bentuk karya seni yang tak bisa diabaikan.
Baca Juga: Real Madrid dan Barcelona Jadi Primadona Wasit di Pekan Pertama La Liga
Editor : Siti Aeny Maryam