LombokPost-Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika membuktikan jati dirinya sebagai lintasan kelas dunia yang multifungsi.
Pada Minggu (1/2), aspal panas Mandalika menjadi saksi sejarah digelarnya Pertamina 6 Hours Enduro, ajang balap ketahanan pertama yang menuntut lebih dari sekadar injakan pedal gas sedalam mungkin.
Sejak bendera start dikibarkan tepat pukul 10.00 WITA, sembilan mobil dari kelas ITCR 1200 dan 1500 langsung melesat memulai pertarungan selama 360 menit.
Balapan ini bukan sekadar adu cepat, melainkan sebuah simfoni strategi antara 29 pembalap lintas benua—mulai dari talenta lokal Indonesia hingga pembalap pendamping dari Asia dan Eropa.
Strategi di Balik Dinding Pit
Berbeda dengan balap sprint yang berakhir dalam hitungan menit, endurance race adalah permainan catur di atas aspal.
Setiap tim harus menghitung dengan presisi kapan waktu terbaik untuk melakukan pit stop, mengganti ban yang mulai menipis, hingga pengisian bahan bakar yang krusial.
“Keseruan utamanya ada pada kerja sama tim. Mereka harus memutuskan kapan harus memacu mobil (push) atau menjaga ritme (maintain),” ujar Sunny TS dari Racing Sun Academy.
Di sini, kesalahan kecil dalam koordinasi di pit lane bisa menjadi pembeda antara podium dan kegagalan.
Ajang Pembelajaran dan Standar Internasional
Pgs VP Business Development MGPA Rully Habibie menekankan, ajang perdana ini merupakan tonggak penting bagi ekosistem motorsport Indonesia. Meskipun menjadi tantangan baru bagi banyak tim lokal dalam mengatur ritme balap 6 jam non-stop, respons positif mengalir deras dari para peserta.
“Ini adalah momen istimewa. Kami melihat bagaimana profesionalisme dibangun, mulai dari pemeriksaan lintasan yang presisi hingga manajemen teknis yang ketat sesuai regulasi internasional,” ungkap Rully.
Editor : Kimda Farida