Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Lombok yang Dibawa MGPA ke Prancis, Usung Visi Jangka Panjang, Bangun Citra Lombok sebagai Destinasi Balap dan Wisata Dunia

Lestari Dewi • Kamis, 12 Februari 2026 | 09:59 WIB

 

Direktur Utama MGPA Priandhi Satria (kanan) berbincang-bincang dengan delegasi lainnya saat menghadiri FIM Commissions Conference, di Lyon, Perancis, pekan lalu.
Direktur Utama MGPA Priandhi Satria (kanan) berbincang-bincang dengan delegasi lainnya saat menghadiri FIM Commissions Conference, di Lyon, Perancis, pekan lalu.

Upaya memperkuat posisi Mandalika di peta motorsport dunia terus dilakukan. Melalui forum internasional di Lyon, Perancis, Mandalika Grand Prix Association (MGPA) membawa misi besar, memperkenalkan Lombok sebagai destinasi sport tourism yang hidup sepanjang tahun.

----

RIBUAN kilometer dari pesisir selatan Lombok, nama Mandalika kembali bergema di ruang konferensi modern di Lyon, Perancis. Bukan melalui deru mesin atau sorak penonton MotoGP, melainkan lewat percakapan serius para pengambil keputusan balap dunia dalam FIM Commissions Conference, 5–8 Februari 2026.

Ketika delegasi Mandalika Grand Prix Association (MGPA) melangkah masuk ke forum itu, yang dibawa bukan hanya agenda teknis tentang lisensi dan regulasi. Mereka membawa cerita tentang Nusa Tenggara Barat, dan tentang bagaimana sirkuit balap bisa menjelma menjadi jembatan menuju panggung dunia.

Di antara delegasi dari Eropa, Asia, hingga Amerika, Direktur Utama MGPA Priandhi Satria tampil dengan narasi berbeda. Ia tidak sekadar berbicara soal tikungan, lintasan, atau standar keselamatan.

Di hadapan forum internasional itu, Priandhi mengajak dunia melihat Mandalika dari sudut pandang lebih luas, sebagai bagian dari Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, pusat sport tourism yang tumbuh dari alam dan budaya lokal.

“Lombok jauh lebih dari sekadar tempat berdirinya sirkuit balap,” kata Priandhi di sela-sela konferensi.

“Mandalika adalah kawasan pariwisata dengan keindahan alam luar biasa, budaya yang autentik, dan masyarakat yang ramah. Itu yang kami perkenalkan kepada dunia,” katanya.

Ruang konferensi FIM hari itu dipenuhi bahasa dari berbagai negara. Diskusi berjalan serius, layar besar menampilkan data teknis dan peta sirkuit dunia.

Namun di sela sesi formal, suasana berubah ketika MGPA membuka cerita tentang Lombok. Brosur dan majalah promosi dibagikan, memperlihatkan panorama Pantai Seger, Bukit Merese, hingga laut biru yang mengitari Pertamina Mandalika International Circuit.

Narasi yang dibangun MGPA sederhana, tetapi kuat. Mandalika bukan hanya lintasan balap. Ia hidup di tengah bentang alam tropis, budaya Sasak yang masih terjaga, dan denyut masyarakat lokal yang tumbuh bersama event internasional. Sebuah pengalaman yang tidak banyak dimiliki sirkuit lain di dunia.

“Ketika Anda berada di Mandalika, Anda tidak hanya menyaksikan balapan,” ujar Priandhi kepada para delegasi. “Anda merasakan lanskap tropis, budaya lokal, dan pengalaman wisata yang menyatu dengan olahraga kelas dunia,” lanjutnya.

Majalah promosi yang dibawa MGPA menampilkan foto lintasan balap yang menyatu dengan alam, lengkap dengan informasi hotel, aksesibilitas, fasilitas paddock, serta dukungan pemerintah daerah dan nasional.

Brosur itu juga memuat kalender event 2025–2026 mulai dari MotoGP, WorldSBK, Mandalika Racing Series, hingga Mandalika Festival of Speed, sebuah pesan bahwa Mandalika hidup sepanjang tahun, bukan hanya saat balapan besar digelar.

Bagi MGPA, forum FIM ini adalah ruang diplomasi sunyi. Di balik pembahasan regulasi dan keselamatan, ada upaya membangun persepsi global tentang Indonesia. Tentang bagaimana motorsport dapat menjadi penggerak ekonomi daerah, membuka lapangan kerja, dan mengangkat identitas lokal ke level internasional.

Priandhi menegaskan, Sirkuit Internasional Mandalika sejak awal dirancang dengan visi jangka panjang. Lintasan mengikuti kontur alam, kawasan terintegrasi dengan destinasi wisata, dan event nasional seperti Mandalika Racing Series menjadi fondasi keberlanjutan.

“Kami ingin setiap event internasional di Mandalika memberi dampak langsung bagi ekonomi dan pariwisata NTB. Motorsport harus memberi multiplier effect,” tegas Priandhi.

Respons para delegasi pun terasa. Beberapa menyatakan ketertarikan untuk melihat langsung Mandalika, sebagian lain menjadikan Indonesia sebagai referensi pengembangan sport tourism berbasis sirkuit. Nama Lombok mulai akrab di telinga para pengambil kebijakan balap dunia bukan hanya sebagai tuan rumah MotoGP, tetapi sebagai destinasi yang utuh.

Di akhir konferensi, yang dibawa pulang MGPA bukan sekadar pembaruan lisensi atau catatan regulasi. Ada keyakinan bahwa Mandalika semakin menemukan posisinya di peta motorsport global.

“Kami ingin dunia tahu bahwa Lombok adalah destinasi yang lengkap, alamnya indah, budayanya kuat, dan infrastrukturnya siap,” kata pria yang belum lama ini menyabet penghargaan The Architect of Motorsport Tourism ini. 

Editor : Jelo Sangaji
#Lyon Prancis #MGPA #FIM #Sirkuit Internasional Mandalika