LombokPost - Kabar kurang sedap menghampiri Arsenal. Di tengah munculnya talenta ajaib baru dari akademi Hale End seperti Max Dowman, publik justru mulai mengkhawatirkan kondisi sang bintang utama, Bukayo Saka. Muncul kekhawatiran besar bahwa pemain Arsenal bernomor punggung 7 itu tengah mengalami penurunan performa yang signifikan akibat kelelahan kronis, sebuah situasi yang mengingatkan fans pada kisah tragis Jack Wilshere.
Sejarah mencatat bahwa Jack Wilshere adalah salah satu talenta terbaik yang pernah dihasilkan Arsenal. Namun, karier Wilshere hancur prematur karena cedera pergelangan kaki yang berulang akibat terlalu sering dimainkan di usia muda.
Kini, pola yang sama seolah terlihat pada Bukayo Saka. Sebagai pemain Arsenal yang paling diandalkan, Saka telah memainkan jumlah pertandingan yang luar biasa banyak sejak menembus skuad utama di usia remaja, mirip dengan apa yang dialami Wilshere satu dekade lalu.
Statistik menunjukkan penurunan yang mengkhawatirkan bagi bintang muda Arsenal ini. Setelah gagal mencetak gol ke gawang Manchester City di final Carabao Cup lalu, Bukayo Saka tercatat baru mengemas dua gol dalam 24 pertandingan terakhirnya.
Penurunan angka ini menjadi sinyal merah bagi Arsenal, mengingat Saka selama ini dikenal sebagai mesin gol dan assist yang sangat konsisten di bawah asuhan Mikel Arteta.
Kritik tajam sempat mengarah pada Bukayo Saka saat Arsenal menghadapi Bayer Leverkusen di Liga Champions beberapa waktu lalu. Dalam laga tersebut, Saka tampak kehilangan daya ledak dan kreativitas yang biasanya menjadi senjata mematikan pemain Arsenal di sisi sayap.
Ia kehilangan banyak duel bola dan gagal melakukan dribel sukses, hingga akhirnya ditarik keluar lebih cepat oleh manajer. Banyak pihak menilai, operasi hamstring yang dijalani Saka musim lalu telah mengubah gaya bermainnya secara permanen.
Masalah cedera kambuhan juga mulai menghantui karier Bukayo Saka di Arsenal musim 2026 ini. Mulai dari masalah hamstring di awal musim hingga cedera pinggul pada Februari lalu, Saka tampak rentan terkena masalah fisik. Situasi ini dinilai sebagai akibat dari mismanagement atau kurangnya rotasi di skuad Arsenal, di mana klub dinilai lalai mencari pelapis yang sepadan untuk melindungi aset berharga mereka tersebut agar tidak berakhir seperti Jack Wilshere.
Jika melihat catatan sejarah, hanya ada segelintir pemain seperti Wayne Rooney atau Cesc Fabregas yang mencatatkan penampilan Premier League sebanyak Saka sebelum usia 21 tahun. Namun, sejarah juga mengajarkan bahwa bermain terlalu banyak di usia muda bisa memperpendek usia keemasan seorang pemain.
Arsenal kini berada di persimpangan jalan; tetap memaksakan Saka bermain atau memberikan kesempatan kepada pemain lain seperti Noni Madueke untuk unjuk gigi setelah jeda internasional nanti.
Kini, tugas berat menanti tim medis dan staf pelatih Arsenal untuk mengembalikan kebugaran Bukayo Saka. Jangan sampai talenta sebesar Saka harus meredup lebih cepat hanya karena beban kerja yang berlebihan.
Fans tentu berharap pemain Arsenal kesayangan mereka ini bisa segera menemukan kembali sentuhan magisnya dan tidak menjadi "cerita sedih" berikutnya di Emirates Stadium seperti yang dialami Jack Wilshere dahulu.
Editor : Pujo Nugroho