LombokPost-Deru mesin motor sport kembali memecah kesunyian pesisir pantai Kuta Mandalika. Putaran perdana ajang bergengsi Pertamina Mandalika Racing Series (MRS) 2026 resmi ditutup dengan drama persaingan sengit pada Race 2, Minggu (26/4).
Para pembalap nasional unjuk gigi, membuktikan bahwa Sirkuit Internasional Mandalika adalah panggung sakral bagi talenta roda dua Indonesia.
Berikut adalah catatan jalannya balapan dari setiap kelas yang berhasil dirangkum Lombok Post.
National Supersport 600cc: Dominasi Mutlak Pasukan Sayap Mengepak
Kelas para raja menyuguhkan tontonan kelas dunia. Astra Honda Racing Team (AHRT) tampil tanpa celah dengan menyapu bersih podium. Herjun Atna Firdaus keluar sebagai jawara setelah duel ketat selama 10 putaran.
Baca Juga: Aspal Mandalika Membara, Herjun Atna dan Andi Gilang Tak Terbendung di MRS 2026
Ia hanya terpaut tipis 0,116 detik dari rekan setimnya, Fadilla Arbi Aditama, yang terus memberikan tekanan hingga garis finis. Dominasi tim ini kian lengkap setelah Rheza Danica Ahrens mengunci posisi ketiga.
National Sport 250cc: Kematangan Andi Gilang Tak Terbendung
Persaingan di kelas 250cc berlangsung sangat taktis. Andi Farid Izdihar atau yang akrab disapa Andi Gilang, kembali menunjukkan kelasnya dengan finis di posisi pertama.
Namun, kemenangan ini tidak diraih dengan mudah. Reykat Yusuf Fadillah dari tim Yamaha membayanginya di posisi kedua dengan selisih waktu yang sangat rapat, yakni 0,206 detik.
Sementara itu, Candra Hermawan berhasil memenangi perebutan tempat ketiga melalui aksi slipstream yang mendebarkan di sektor terakhir sirkuit.
National Sport 150cc: Pertarungan Strategi di Superpole
Sesi Superpole yang krusial menjadi milik Fahmi Basam. Tampil agresif sejak lampu hijau menyala, Fahmi berhasil meredam ambisi Fadli Rigani yang terus mengintai untuk melakukan manuver. Fahmi finis terdepan dengan margin 0,504 detik.
Baca Juga: Arai Diserbu Penonton di Pit Walk Mandalika Racing Series 2026
Menariknya, posisi ketiga kembali diamankan oleh Andi Farid Izdihar, membuktikan ketangguhannya meski harus membalap di beberapa kelas berbeda.
Underbone 150cc: Drama Hingga Meter Terakhir
Seperti biasa, kelas Underbone menyajikan aksi closeness yang ekstrem. Rendi Oding berhasil keluar sebagai pemenang di tengah kerumunan pembalap yang finis hampir bersamaan. Ia hanya unggul 0,128 detik dari Danial di posisi kedua, dan Dimas Juliatmoko di posisi ketiga.
Ketiganya hanya terpisahkan kurang dari setengah detik, menunjukkan betapa kompetitifnya motor bebek di lintasan GP ini.
Kelas Pembinaan: Jembatan Menuju Dunia
Di kelas Junior Sport 250cc U-18, pembalap asal DKI Jakarta, M. Abid Ashar Musyafa, tampil dominan dan tak tersentuh di posisi puncak dengan keunggulan margin lebih dari 10 detik.
Sementara di kategori U-15 (Indonesia Junior Talent Cup), Resky YH memenangi duel wheel-to-wheel melawan pembalap muda asal Maluku, Marciano M.C. Risakotta, dengan selisih tipis 0,364 detik.
Pertamina Pertegas Komitmen Pembinaan
Keterlibatan Pertamina (Persero) dalam ajang MRS 2026 kini memasuki babak baru. Tidak sekadar menjadi sponsor titel, raksasa energi nasional ini menegaskan komitmennya dalam mencetak talenta balap dunia melalui sistem pembinaan yang terarah.
Baca Juga: MRS 2026, Kelas Baru Junior Sport 250cc U-18 Jadi Sorotan
Hadirnya kelas Junior Sport 250cc U-18 menjadi terobosan tahun ini. "Kelas ini diharapkan menjadi ruang bagi pembalap muda untuk mengasah kemampuan dan mempersiapkan diri sebelum naik ke jenjang yang lebih kompetitif di level internasional," terang Corporate Brand Pertamina (Persero) Yedo Kurniawan, Minggu (26/4).
Yedo menambahkan, Pertamina akan terus memantau perkembangan para pembalap potensial selama seri MRS berlangsung. Tak tanggung-tanggung, mereka yang menunjukkan performa impresif berpeluang mendapatkan pelatihan khusus di akademi balap internasional. Hal ini menjadi angin segar bagi ekosistem balap tanah air guna memastikan regenerasi pembalap nasional tetap berjalan di jalur yang benar.
Direktur Utama MGPA Priandhi Satria, menilai bahwa persaingan yang terjadi bukan hanya menunjukkan kualitas individu pembalap, tetapi juga perkembangan ekosistem balap nasional secara keseluruhan.
Baca Juga: Arai Agaska Terpelanting, Herjun Atna Kembali Tak Terbendung
Persaingan yang sangat ketat di semua kelas hari menunjukkan bahwa pembinaan balap di Indonesia berjalan ke arah yang positif.
"Selisih waktu yang tipis, bahkan hingga seperseratus detik, menandakan kemampuan para pembalap sudah sangat kompetitif dan merata," ujar Priandhi Satria.
Dia juga menyoroti bagaimana para pembalap mampu menjaga performa di tengah kondisi cuaca yang menantang. Menurutnya, faktor fisik, strategi, hingga kesiapan tim menjadi kunci penting dalam menghadapi balapan dengan suhu lintasan tinggi.
"Balapan di Pertamina Mandalika International Circuit lebih dari sekadar kecepatan, tetapi juga manajemen stamina, konsistensi, dan strategi. Dengan suhu lintasan yang tinggi, pembalap dituntut untuk lebih cermat dalam mengatur ritme. Ini yang membuat balapan semakin menarik sekaligus menantang," lanjutnya.
Priandhi menegaskan, kualitas persaingan seperti ini menjadi indikator positif bagi masa depan motorsport Indonesia. Ia melihat potensi besar dari para pembalap muda hingga senior yang tampil kompetitif di seri pembuka ini.
"Kami melihat potensi besar dari para pembalap, baik di kelas pembinaan seperti IJTC hingga kelas tertinggi 600cc. Ini menjadi fondasi penting untuk mendorong mereka ke level yang lebih tinggi, termasuk ke kejuaraan internasional," tambahnya.
Editor : Akbar Sirinawa