LombokPost – Piala Dunia 2026 kembali menghadirkan harapan lahirnya kekuatan baru di sepak bola dunia.
Jepang dan Maroko kini dipandang sebagai dua negara yang berpeluang mengakhiri dominasi tim-tim tradisional dari Eropa dan Amerika Selatan saat memasuki babak 32 besar.
Pada Selasa (30/6) dini hari WIB, Jepang dijadwalkan menghadapi Brasil, sedangkan Maroko menantang Belanda. Dua laga tersebut menjadi ujian besar bagi wakil Asia dan Afrika untuk membuktikan diri mampu bersaing di level tertinggi.
Baca Juga: Messi Ukir Rekor Lagi, Scaloni Mengaku Kehabisan Kata-kata
Hingga kini, dominasi negara-negara Eropa dan Amerika Selatan di Piala Dunia belum tergoyahkan. Sejak Argentina menjadi juara pada 1978, hanya Prancis dan Spanyol yang berhasil muncul sebagai juara baru. Prancis meraih gelar pada 1998 dan 2018, sedangkan Spanyol menjuarai edisi 2010.
Keberhasilan kedua negara itu ditopang sistem pembinaan usia muda yang modern dan berkesinambungan. Model tersebut kemudian menjadi rujukan banyak negara yang ingin mengejar ketertinggalan.
Kini, harapan itu mengarah kepada Jepang dan Maroko. Maroko lebih dulu mencuri perhatian setelah menjadi tim Afrika pertama yang menembus semifinal Piala Dunia 2022 di Qatar. Sementara Jepang terus menunjukkan perkembangan berkat kompetisi domestik J.League dan pembinaan pemain yang konsisten.
Baca Juga: Sebut Pemain Jepang Mirip, Rafael van der Vaart Minta Maaf Usai Diamuk Netizen Seluruh Dunia
Keberhasilan Maroko tidak lepas dari investasi jangka panjang. Selain diperkuat banyak pemain diaspora yang berkembang di akademi Eropa, Federasi Sepak Bola Maroko juga membangun Akademi Mohammed VI di dekat Rabat sebagai pusat pengembangan talenta.
Dari 26 pemain dalam skuad saat ini, sebanyak 19 pemain lahir di luar Maroko, termasuk tiga pemain yang lahir di Belanda. Program pembinaan tersebut kini mulai menghasilkan pemain-pemain berkualitas untuk tim nasional.
Di sisi lain, Jepang membangun kekuatannya melalui fondasi kompetisi profesional sejak berdirinya J.League pada 1992. Sebagian besar pemain terbaiknya kini berkarier di Eropa, sementara hanya tiga pemain dalam skuad yang masih bermain di liga domestik.
Di bawah arahan Hajime Moriyasu, Jepang dikenal dengan permainan kolektif yang mengandalkan tekanan tinggi, penguasaan bola, dan disiplin taktik. Filosofi permainan itu terus berkembang dalam delapan tahun terakhir.
Meski demikian, tantangan berat telah menanti. Brasil yang kini ditangani Carlo Ancelotti tetap menjadi salah satu kandidat kuat juara. Vinícius Júnior masih menjadi ancaman utama, sementara Jepang berharap Takefusa Kubo yang telah pulih dari cedera dapat menambah kreativitas di lini serang.
Di laga lainnya, Maroko dituntut meredam ketajaman Brian Brobbey dan memutus aliran bola dari lini tengah Belanda. Duel antara Achraf Hakimi dan Cody Gakpo diperkirakan menjadi salah satu kunci pertandingan.
Jepang juga membawa misi mengakhiri catatan buruk karena belum pernah memenangi pertandingan fase gugur Piala Dunia. Namun, kemenangan 3-2 atas Brasil dalam laga persahabatan di Tokyo pada Oktober tahun lalu menjadi modal kepercayaan diri.
Editor : Jelo Sangaji