“Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) tentu berpeluang mengalami penurunan,” kata Kasi Pemasaran dan Analisa Pasar Pariwisata Bidang Promosi Disbudpar Lombok Utara Alwi Agusto, Kamis (5/3/2020).
Ia mengungkapkan, pihaknya belum bisa menganalisa tingkat kunjungan saat ini. Hal ini dikarenakan data Februari belum terkumpul seluruhnya.
Namun dibandingkan Desember 2019 lalu, kunjungan meningkat 6 persen. Sedangkan dibandingkan Januari 2019 peningkatan sebesar 77 persen.
“Untuk Februari ini belum bisa dianalisis, kita menunggu data terkumpul,” aku dia.
Berdasarkan data Januari 2020, wisman yang datang berasal dari Australia 18 persen, Inggris 13 persen, Prancis 11 persen, Jerman 9 persen, Rusia 9 persen, Italia 8 persen, Korea 7 persen, Swedia 6 persen, Amerika 5 persen, Belanda 4 persen, dan lainnya 1 persen.
“Belum kita lihat penurunan kunjungan pasca mewabahnya korona ini, tapi kemungkinan di Februari ini ada gangguan,” aku dia.
Meski demikian, Alwi mengimbau pelaku usaha tetap memberikan pelayanan terbaik. Di antaranya dengan memperhatikan kebersihan diri, lingkungan dan adab memberikan pelayanan. Ia yakin, hal ini bisa memberikan daya tarik bagi wisatawan untuk datang berkunjung
“Karena mereka di sini mereka mencari ketenangan, dan kebahagiaan hidup,” tandas dia.
Sementara itu Badan Pusat Statistik (BPS) Lombok Utara melihat ada penurunan signifikan kunjungan wisatawan ke Lombok Utara. Kepala BPS Lombok Utara Muhadi mengatakan, berdasarkan laporan timnya di lapangan, angka kunjungan wisatawan, khususnya wisman, terus menurun.
“Bisa jadi ini dampak dari virus korona,” aku dia.
Penurunan tersebut diakui Muhadi merupakan dampak dari proteksi diri yang dilakukan pemerintah pusat. Hal itu dinilai jelas berpengaruh terhadap pariwisata.
“Seberapa besarnya (penurunan) itu nanti kita tunggu hasilnya setelah selesai dilakukan survey oleh teman-teman di lapangan,” kata dia.
Muhadi mengungkapkan, untuk tingkat kunjungan di Lombok Utara pihaknya mengambil sampel dari hotel. Namun sampel itu tidak bisa di breakdown di level kabupaten.
BPS memiliki sampel sebanyak 59 hotel di Lombok Utara. 12 hotel merupakan hotel berbintang. Kata dia, kunjungan di hotel berbintang masih bagus. Kunjungan yang tidak bagus justru terdapat di hotel non bintang.
“Bahkan infonya di beberapa hotel non bintang itu, banyak dikontrakkan,” ungkap dia.
Sementara itu Bupati Lombok Utara H Najmul Akhyar tidak menampik mewabahnya virus korona sangat berpengaruh terhadap tingkat kunjungan wisatawan. Berdasarkan laporan yang diperolehnya, tingkat hunian di hotel khusus di tiga gili sudah mulai menurun.
"Tetapi kita mau bilang apa, ibaratnya musibah itu tidak bisa kita tangkal," katanya.
Namun walaupun kunjungan menurun, kata dia, pihaknya tetap berupaya mempromosikan potensi pariwisata. Salah satunya dengan mengadakan sejumlah event.
"Kalaupun nanti turis asing tidak banyak, setidaknya kita bisa mendatangkan banyak wisatawan lokal," sambung dia.
Untuk mengantisipasi masuknya virus korona di Lombok Utara, pemkab sudah mengambil langkah antisipatif. Yakni dengan menempatkan tim medis khusus yang akan memeriksa turis yang datang berkunjung. Tim medis ini sudah dilengkapi dengan alat deteksi virus korona.
"Makanya saya mengimbau agar masyarakat tidak terlalu panik," pungkasnya.
Berbeda dengan sektor pariwisata, investasi di Lombok Utara justru mulai menggeliat. Dinas Tenaga Kerja Penanaman Modal Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (Disnaker PMP2TSP) Lombok Utara mengklaim investasi di Lombok Utara diawal tahun 2020 masih stabil. Artinya, belum terlihat penurunan berarti jika mengacu pada bulan yang sama di tahun lalu.
"Kondisi investasi di wilayah kita masih stabil, terhadap isu virus Korona belum terlihat ada pengaruh,"ungkap Kepala Disnaker PMP2TSP Lombok Utara Agus Tisno.
Agus menyebutkan, di awal tahun ini, sudah banyak yang mengajukan izin dan komitmen usaha. Terutama dari sektor pariwisata. Di mana sejumlah investor mengajukan izin pembangunan hotel dan restoran. Tidak itu saja, industri pertanian dan perkebunan juga masih menggeliat.
"Di samping itu pengajuan untuk izin mendirikan bangunan (IMB) juga sudah cukup banyak kita terima," ungkap dia.
Pengajuan IMB yang masuk ke Disnaker PMP2TSP Lombok Utara mencapai puluhan. Namun pengajuan IMB sejak tahun 2019 lalu itu baru terverifikasi sejumlah 23 unit. Itu mayoritas dari usaha perhotelan dan restoran.
"Dari SK yang terverifikasi untuk IMB yang sudah lengkap persyaratannya sudah ada 23 unit, sisanya masih banyak yang mengajukan namun belum mencukupi persyaratan," kata mantan Kepala Dishublutkan itu.
Ia menambahkan, dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan sidak ke sejumlah perusahaan. Tujuannya melihat berkas persyaratan izin yang dikantongi.
"Kita ingin tahu seperti apa usaha dan izin yang mereka kantongi, karena ke depan ada rencana untuk dipungut retribusinya jika regulasi sudah dibuat," kata Agus. (fer/r4)
Editor : Baiq Farida