LombokPost-Desa Kayangan, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara menjadi salah satu desa yang warganya mempertahankan adat budaya leluhur hingga saat ini.
Salah satunya yang dilestarikan warga setempat berupa Roah Bedugulan.
Desa Kayangan memiliki tradisi budaya daerah yang sudah dilakukan secara turun temurun. Ini dilakukan karena wilayah Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3) sudah selesai memanen lahan pertandiannya.
Tradisi ini dikenal dengan nama Roah Bedugulan.
Roah Bedugulan merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan petani selesai panen padi dan palawija. Ini sudah cukup lama berlangsung di desa ini dan dipertahankan untuk dilaksanakan terus secara berkelanjutan.
”Kalau tanggal pelaksanaan tidak menentu. Patokannya itu semua petani yang tanam padi di wilayah P3 selesai panen,” ujar Kades Kayangan Edi Kartono.
Namun dalam tradisi ini ada beberapa kegiatan yang wajib dilakukan oleh warga setempat. Mulai menyiapkan hasil-hasil bumi yang dibuat menjadi Sambi atau gunungan hasil bumi.
Sambi adalah mengumpulkan semua hasil bumi yang ada di tengah masyarakat. Ini dikeluarkan sebagai rasa syukur masyarakat yang telah usai memanen pada periode tahunan ini.
Sambi ini nantinya akan digotong warga mengelilingi desa dan disajikan saat pelaksanaan puncak Roah Bedugulan digelar.
Sambi merupakan tempat orang tua zaman dulu menaruh hasil panen seperti padi, jagung, dan lainnya.
Sambi akan dibawa berbarengan dengan membawa berkat yang berisikan hasil bumi juga terdiri dari padi, jagung, kelapa, sayur-sayuran, dan semua hasil pertanian dalam satu tahun ini.
”Ini nantinya akan dinikmati bersama-sama dengan undangan dan warga yang datang ke roah tersebut,” jelasnya.
Kemudian ada salah satu panganan yang wajib dibuat dalam tradisi ini yaitu tenimbung khas sasak. Dimana dibalik setiap masakan ini terdapat kisah dan keunikannya.
Tenimbung sendiri merupakan ketan yang dimasak menggunakan bambu dan santan yang dibakar secara bersamaan.
Biasanya sekali masak bisa langsung ratusan tenimbung dibuat warga untuk Roah Bedugulan.
Pembakaran tenimbung ini menggunakan batok kelapa dan batang kelapa yang sudah mengering agar api dengan maksimal masak merata.
Dalam roah adat ini tidak ada ritual khusus yang dilakukan.
Hanya ada zikiran dan makan bersama. Sebelum itu ada sambutan terkait tentang pertanian dan budaya yang dilakukan oleh orang tua dulu.
”Kalau makanan setiap warga memasak di rumah masing-masing sesuai dengan hasil bumi yang dimiliki warga juga,” tuturnya.
Bupati Lombok Utara Djohan Sjamsu menyampaikan Roah Bedugul merupakan ritual adat sebagai bentuk wujud syukur kepada sang pencipta alam semesta.
Rasa syukur atas apa yang diberikan melalui hasil panen yang melimpah.
”Tentunya kita berharap dan berdoa semoga hasil yang didapatkan setiap tahunnya meningkat,” pungkasnya. (nur/r12)
Editor : Kimda Farida