LombokPost-Tepat enam tahun lalu, bencana gempa bumi mengguncang Lombok Utara.
Bencana ini tentu masih membawa luka yang mendalam bagi korban, namun kini bencana tersebut harus dijadikan sebagai upaya meningkatkan kewaspadaan bencana dan pembelajaran seterusnya.
”Intinya semua butuh untuk kesiapsiagaan, tidak bisa semua dibebankan ke masyarakat. Pemerintah juga lebih aware agar berusaha lebih baik pasca gempa 2018 silam. Kejadian itu menjadi peringatan dan penyadaran gempa bumi bukan hal yang bisa dianggap remeh,” kata Analis Kebencanaan BPBD Lombok Utara Agus Herry Purnomo, Senin (5/8).
Menurut Agus, masyarakat sebenarnya sudah ada praktik untuk beradaptasi dengan bencana. Bila melihat beberapa kearifan lokal Lombok Utara sudah adaptif terhadap gempa bumi.
Hanya saja masyarakat yang cenderung lebih modern kadang lupa kalau daerah yang ditinggali adalah daerah rawan gempa bumi.
”Makanya yang cenderung jadi korban itu masyarakat yang sudah hidup secara modern. Apalagi dilihat dari dampak bangunan,” cetusnya.
Agus menambahkan tidak ada salahnya hidup modern, tetapi harus tetap memperhatikan standar bangunan.
Hal ini tidak bisa disepelekan dan harus menjadi perhatian khusus.
”Dalam konteks bencana, kita harus belajar dari masyarakat. Tapi tidak semua masyarakat berpikir seperti itu,” jelasnya.
Sementara itu, Kalak BPBD Lombok Utara M Zaldy Rahadian mengatakan gempa 2018 bisa menjadi pembelajaran penting terkait bencana. Sehingga masyarakat semakin sadar kalau hidup di daerah rawan bencana.
Karena tidak semua ancaman bencana bisa diintervensi, tetapi setidaknya dengan membangun kapasitas masyarakat merupakan bagian upaya dari mengurangi risiko bencana.
Jadi semua pihak terlibat dalam mengurangi risiko bencana, baik pemerintah, masyarakat, maupun pihak lainnya bisa mengambil peran.
”Kuncinya saat ini bagaimana bisa mengurangi risiko dampak dari bencana yang akan terjadi,” tandasnya. (nur/r12)
Editor : Kimda Farida