Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cara Warga Gili Gede Kembangkan Pariwisata yang Ramah Budaya Lokal; Ganti Istilah Party dengan Begawe, Kafe Disebut Warung

Umar Wirahadi • Senin, 2 Desember 2024 | 12:51 WIB

 

SURGA DUNIA: Kapal pesiar mini yang mengangkut wisatawan bersandar di terminal khusus Marina Del Ray, Gili Gede Indah, Sekotong, pekan lalu.
SURGA DUNIA: Kapal pesiar mini yang mengangkut wisatawan bersandar di terminal khusus Marina Del Ray, Gili Gede Indah, Sekotong, pekan lalu.

 

Aktivitas pariwisata di Gili Gede semakin menjadi primadona seiring dengan meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik. Diving, snorkeling hingga surfing menjadi kegiatan favorit wisatawan di sana. Menariknya, banyak warga lokal yang menjadi aktor penggerak pariwisata.

 

Sejumlah wisatawan asing melintasi jalan poros Desa Gili Gede Indah. Mereka baru pulang snorkeling di sebuah titik di pantai Dusun Orong Bukal, Desa Gili Gede Indah.

Spot itu terkenal dengan terumbu karang yang masih alami.

Para turis perempuan mengenakan pakaian terbuka seperti bikini. Sementara beberapa turis pria menenteng minuman beralkohol. Mereka berjalan santai sambil minum dan bersenda gurau.

Kontan saja, itu menjadi perhatian warga sekitar. Warga pun melapor ke kepala dusun. Dari sana, kepala dusun langsung menyampaikan keluhan warga itu ke pemilik hotel dan villa tempat mereka menginap.

”Harapan kami pengelola hotel menegur perilaku wisatawan itu,” kata Kepala Desa Gili Gede Indah Awaludin.

Disampaikan, teguran dari pihak hotel  jauh lebih sopan daripada disampaikan sendiri oleh warga. Selain karena kendala komunikasi, teguran dari warga bisa saja disalahartikan wisatawan. Karena itu bagian dari kenyamanan dan keamanan para pelancong.

”Kami bersyukur setelah kejadian itu nggak ada lagi turis yang pakai bikini masuk ke kampung. Sekarang kalau jalan di jalan desa, pakaian mereka sopan. Mungkin sudah ngerti budaya lokal di sini,” tutur Awaludin.

Selain cara berpakaian di ruang publik, warga juga mengubah sejumlah istilah asing. Diganti dengan istilah yang lebih familiar dan lokal. Salah satunya istilah "party".

Istilah yang sangat umum di dunia pariwisata itu oleh warga diubah menjadi "begawe". Sebab kalau party sangat identik dengan dugem, clubbing hingga mabuk-mabukkan.

”Sekarang kalau ada hotel atau villa mau ngadakan night party, warga mengganti dengan istilah begawe,” tutur Ketua Pokdarwis Desa Gili Gede Indah Khairil.

Kata lain yang dihindari juga "kafe". Agar lebih ramah ke warga sekitar, penyebutan kafe diubah menjadi warung atau angkringan.

”Sebenarnya komunikasi ini sesama warga sendiri. Khususnya dari orang tua ke generasi muda yang aware dengan dunia pariwisata,” tutur Khairil.

Saat ini, anak-anak muda Gili Gede memang sudah mulai sadar pariwisata. Bahkan banyak di antara mereka yang bertindak sebagai pelaku pariwisata. Misalnya dengan mendirikan kafe-kafe untuk para wisatawan.

Anak-anak muda juga menggenjot tingkat kunjungan wisatawan dengan aktif mencari kerja sama dengan travel agen.

Itu bagian dari upaya mereka dalam mempromosikan kegiatan wisata Gili Gede. Sehingga tingkat kunjungan wisatawan terus meningkat setiap tahun. Khususnya saat musim high season.

Nah, salah satu bukti peningkatan jumlah wisatawan adalah bagi hasil pajak (BHP) yang diterima pemeirntah Desa Gili Gede Indah.

Awalnya BHP bekisar Rp 70 juta sampai Rp 80 juta per tahun. Saat ini desa setempat sudah menerima BHP di atas Rp 100 juta.

Setiap tahun wisatawan asing maupun domestik berdatangan ke pulau yang indah itu. Mereka menikmati pemandangan bawah laut. Seperti diving dan snorkeling.

Para wisatawan itu menginap di belasan hotel dan villa yang tersebar di lima dusun. Meliputi Dusun Gili Dede, Orong Bukal, Gedang Siang Labuan Cenik dan Dusun Tanjungan.

Sedikitnya sudah ada 17 villa dan hotel yang dibangun di pulau itu. Banyak yang masuk jajaran hotel berbintang.

Di antaranya Secret Island Resort, Pelangi Homestay, Tanjungan Bukit, Tamarin Resort, High Dive, Alam Karang, Kokomo Resort, Flower Paradise, Villa Selalu, Mango Homestay, Kabita Resort, Papalagi Resort, Yellow Koko, Sentigi Homestay, Handy Homestay, Eco Dive serta Marina Del Ray.

Marina Del Ray misalnya, selain berupa hotel juga memiliki terminal khusus parkiran kapal. Juga tersedia restoran.

Ini menjadi primadona bagi wisatawan yang berdompet tebal untuk berlibur. Banyak juga artis serta selebgram datang untuk membuat konten di tempat eksotis nan indah itu.

Keberadaan hotel, villa dan kedatangan wisatawan menjadi ladang empuk bagi Pemkab Lobar. Geliat pariwisata di Gili Gede kini menyumbang pajak dan retribusi ke kas daerah yang tidak sedikit. (umar wirahadi/r12)

Editor : Marthadi
#Pajak #Gili #Gede #indah #BHP #Lombok #Pariwisata