LombokPost - Penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten Lombok Utara di triwulan pertama ini sudah mencapai 20,73 persen.
Realisasi tersebut cukup menggembirakan karena telah melampaui target.
Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Lombok Utara Ainal Yakin mengatakan realisasi pendapatan di triwulan pertama ditargetkan mencapai 15 persen.
Tetapi sejak Januari hingga Maret 2025 lalu sudah di angka 20 persen.
”Sudah lebih dari target,” cetusnya.
Dia menerangkan, target penerimaan PAD, baik dari sektor pajak maupun retribusi tahun ini sebesar Rp 300 miliar.
Realisasinya sampai Maret lalu ada di angka Rp 41,5 miliar. Melihat progres saat ini, dia optimistis akan mencapai target, bahkan bisa lebih.
Ainal Yakin mengaku dari beberapa potensi pendapatan, penerimaan dari jasa perhotelan paling tinggi. Yaitu mencapai Rp 16,7 miliar dari target Rp 89 miliar.
Tingkat realisasi dari sektor ini sebesar 18,84 persen.
Kemudian di bawahnya menyusul pajak restoran. Penerimaan PAD dari sektor ini sebesar Rp 12,5 miliar atau realisasi mencapai 23,33 persen dari target Rp 53,6 miliar.
Sedangkan penyumbang PAD terbesar ketiga adalah Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) tenaga listrik. Realisasinya di triwulan pertama ini mencapai 25,18 persen.
Di mana penerimaannya sebesar Rp 4 miliar dari target PAD Rp 16 miliar.
”Nanti di triwulan kedua ditarget mencapai 40 persen, triwulan ketiga 75 persen, dan triwulan empat harus 100 persen,” tuturnya.
Ainal Yakin menjelaskan ada beberapa upaya dalam menggenjot penerimaan PAD. Di antaranya dengan penagihan intensif.
Dengan menggencarkan penagihan kepada wajib pajak, otomatis akan meningkatkan PAD.
”Sehingga kita sangat berharap agar anggaran penagihan jangan dipotong. Kalau dipotong akan terganggu realisasi,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua DPRD KLU Agus Jasmani meminta kepada pemerintah daerah untuk mulai berpikir mengoptimalkan pertanian sebagai salah satu sumber PAD.
Karena selama ini Lombok Utara hanya mengandalkan sektor pariwisata.
”Di sektor lain kita bisa dimanfaatkan, agar PAD kita tidak hanya bergantung kepada pariwisata,” katanya.
Menurut Agus, jika sumber daya pada sektor pertanian bisa dimaksimalkan, bisa menjadi sumber pemasukan yang cukup besar. Banyak komoditas unggulan yang bisa menghasilkan.
”Ada kopi, cokelat, cengkeh, dan lain sebagainya,” terangnya.
Saat ini ada juga beberapa kelompok tani yang diberikan hak garap lahan hutan oleh pemerintah pusat. Menurut Agus, ini tidak hanya memberikan kesejahteraan kepada mereka sendiri, tetapi juga potensial menjadi penyumbang PAD.
”Kedepan ini harus bisa kita manfaatkan juga,” ujarnya.
Karena itu, dia mendorong pemerintah daerah agar menangkap peluang pemasukan dari sektor pertanian. Kemudian yang tak kalah penting juga, perlu ada intervensi pemerintah dalam menyediakan pasar bagi komoditas pertanian.
”Kami akan mendorong pemerintah supaya ke depan sektor pertanian ini lebih diperhatikan,” tandasnya. (bib/r8)
Editor : Pujo Nugroho