Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bhayangkari bersama Disperpusip KLU Peringati Hari Buku Nasional di Desa Malaka

Habibul Adnan • Sabtu, 17 Mei 2025 | 21:33 WIB

LITERASI: Ketua Bhayangkari Cabang KLU Heny Agus Purwanta bersama anak-anak SD pada peringatan Hari Buku Nasional di Desa Malaka, Kecamatan Pemenang
LITERASI: Ketua Bhayangkari Cabang KLU Heny Agus Purwanta bersama anak-anak SD pada peringatan Hari Buku Nasional di Desa Malaka, Kecamatan Pemenang
TANJUNG - Bhayangkari Cabang Kabupaten Lombok Utara (KLU) bersama Dinas Perpustakaan dan Arsip (Disperpusip) KLU menggelar peringatan Hari Buku Nasional di Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Sabtu (17/5).

Dalam kesempatan itu, para siswa sekolah dasar setempat dikumpulkan dan dimotivasi agar gemar membaca buku.

Ketua Bhayangkari Heny Agus Purwanta menyampaikan, bahwa sudah saatnya membaca dijadikan sebagai budaya.

"Agenda hari ini dalam rangka peringatan hari buku nasional. Di momen ini kita ingin membuat Lombok Utara senang berliterasi," katanya.

Membiasakan membaca buku sebagai rutinitas sehari-sehari memang tidak mudah. Meski begitu, hal tersebut bukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan.

"Selama ada kemauan, pasti bisa. Lama-lama nanti jadi habit," imbuh istri Kapolres KLU AKBP Agus Purwanta itu.

Bhayangkari Baca Juga: Cipta Kondisi Bulan Ramadan, Polres Lombok Utara Bubarkan Judi Sabung Ayam

Dalam "kampanye" budaya membaca ini, tentu harus dimulai sejak dini. Seperti dengan menanamkan kebiasaan membaca kepada anak-anak SD. Heny mengaku, inilah yang sedang dilakukannya saat ini.

"Di sekolah anak-anak kita mulai dibiasakan membaca," tambahnya.

Tetapi yang perlu dipahami, katanya, tidak cukup jika anak-anak hanya disuruh membaca tanpa ada tindakan konkret dari orang tua maupun para gurunya di sekolah. Guru di sekolah maupun orang tua juga harus ikut membaca buku.

"Karena anak-anak itu akan melakukan apa yang dilihatnya," ujar perempuan yang juga penulis beberapa judul buku ini.

Heny berbagi trik cara membiaskan diri membaca buku. Yaitu dengan mewajibkan diri membaca buku dalam sehari.

"Baca 15-20 menit tiap hari. Saya juga begitu, harus membaca dan sekarang sudah biasa," katanya.

Membaca buku, di samping menambah wawasan, juga bisa menghilangkan rasa sedih maupun kesusahan.

"Coba saja membaca, pasti rasa bingung, rasa sedih akan hilang. Jika bisa membuat panjang umur. Lihat saja profesor-profesor. Umumnya berusia 70 tahun lebih," ujar Heny.

Tetapi yang cukup memprihatinkan, saat ini anak-anak lebih akrab dengan gadget. Mereka kuat bertahan dengan hand phone hingga berjam-jam.

Bahkan, tidak sedikit yang curhat ke AI. "AI tidak punya perasaan. dia kumpulan data. tidak bisa membedakan data benar dan salah. AI tidak punya agama," katanya lagi.

Tahun 2045 nanti dicanangkan tercapainya Indonesia Emas. Yaitu menjadi negara maju, berdaulat, adil, dan makmur.

Akan tetapi Heny menilai, Indonesia Emas akan hanya menjadi program semata tanpa dimulai menyiapkan SDM yang unggul melalui gemar membaca.

"Itu yang memungkinkan bonus demografi terwujud. Maka kita ingin anak-anak Lombok Utara tidak hanya kenal buku saat momen tertentu saja, tapi membaca itu harus menjadi kebiasaan. Dan ini harus ditumbuhkan dari sekarang," ujar Heny.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip KLU Wahyu Darmawan menyambut baik kolaborasi ini. Ia menilai kontribusi nyata dari tokoh publik seperti Ketua Bhayangkari Heny menjadi angin segar di tengah rendahnya indeks literasi di Lombok Utara.

"Ini sangat positif. Kita tahu KLU adalah salah satu daerah dengan minat baca yang masih rendah. Kehadiran buku-buku yang ditulis langsung oleh Ibu Kapolres sangat membantu membangun citra literasi positif di masyarakat," ujarnya.

Dia menerangkan, minat banyak di Lombok Barat masih cukup rendah. Dari 100 anak hanya 3 yang gemar membaca. "Ini masih kecil sekali, makanya harus ada upaya bersama," kata Wahyu.

Kepala Desa Malaka, Akmaludin Ichwan mengungkapkan bahwa pihaknya telah membangun pojok baca di kantor desa. Ini sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan literasi.

"Kantor desa kami diapit oleh beberapa pondok pesantren dan sekolah. Jadi kami jadikan ini sebagai tempat anak-anak belajar dan membaca. Bahkan kami pernah ikut lomba literasi tingkat kabupaten dan provinsi, dan berhasil mendapat juara," jelasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa kunjungan Bhayangkari dan Dinas Perpustakaan ini menjadi motivasi tambahan bagi anak-anak di desanya untuk mencintai buku.

Dia berharap, ini akan mampu membentuk generasi pembaca yang aktif dan kritis di masa depan.

Upaya yang dilakukan Bhayangkari dan Dinas Perpustakaan dan Arsip KLU menjadi langkah penting dalam menjawab tantangan rendahnya budaya literasi di Lombok Utara. (bib)

Editor : Siti Aeny Maryam
#gemar membaca #bhayangkari #membaca buku #hari buku nasioanal #Lombok Utara