Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Melihat Tradisi Perang Topat di Dusun Lenek, Desa Bentek, Lombok Utara

Habibul Adnan • Jumat, 15 Agustus 2025 | 11:53 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost - Tradisi perang Topat tidak hanya ada di Pura Lingsar, Lombaok Barat. Tetapi juga ditemukan di Lombok Utara. Yaitu di Dusun Lenek, Desa Bentek, Kecamatan Gangga.

Beberapa pria remaja bertelanjang dada bersiap dengan alat tempurnya. Seperti tameng atau perisai untuk melindungi diri dari serangan musuh.

Tameng tersebut mirip ende/perisai yang dipakai dalam tradisi peresean.

Hanya saja perisainya dibuat dari bambu yang sudah dianyam. Setelah peralatan lengkap, mereka langsung melancarkan serangan kepada musuh.

Senjata utama dalam serangan ini adalah Topat.
Beberapa buah Topat yang telah disiapkan langsung ditujukan kepada musuh.

Demikian juga kubu lawan. Tetapi tidak mudah bisa mengenai sasaran. Topat yang melayang dengan sigap dihalau dengan perisai.

Aksi perang topat bukan di Pura Lingsar, Lombok Barat, yang masuk dalam kalender event nasional (KEN) itu.

Tetapi juga ditemukan di Dusun Lenek, sebuah dusun mayoritas Hindu di Lombok Utara. Tradisi yang rutin dilaksakan setiap tahun.

Tokoh Makrama Adat Giri Putra mengatakan, Perang Topat ini sebagai rangkaian dari acara adat Meayu-Ayu Muja Balit Muleq Kaya Melbao Rahayu. Ritual ini dilaksanakan pada musim panas. ”Rutin kita gelar di Agustus,” ujar Putra.

Baca JBaca Juga: Diduga Tak Sesuai Spek, Komisi III Bongkar Paksa Pagar Proyek Kantor Dewan Lombok Utarauga: Dewan Lombok Utara Klaim Pembongkaran Pagar Bentuk Pengawasan

Dia menerangkan, ritual ini dilaksanakan sebagai rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh. Baik hasil tanam di sawah-sawah maupun di kebun.

”Memiliki makna pemujaan terhadap leluhur, sebagai bentuk rasa syukur,” imbuhnya.

Ada beberapa rangkaian dalam tradisi Meayu-Ayu Muja Balit Muleq Kaya.

LESTARIKAN BUDAYA: Warga Dusun Lenek saat ritual Perang Topat sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.
LESTARIKAN BUDAYA: Warga Dusun Lenek saat ritual Perang Topat sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.

Sebelumnya, ada giat membersihkan tempat pemujaan, kemudian turun gong atau menurunkan gamelan hingga perang topat.

”Acaranya berlangsung selama empat hari,” kata Putra.

Bagi warga Dusun Lenek, ini merupakan ritual yang sangat sakral. Di mana biasanya dihadiri para Bhikkhu Sangha, tokoh adat, tokoh pemuda serta tamu undangan lainya.

Di antara undangan yang hadir Wakil Bupati KLU Kusmalahadi Syamsuri.

Pada kesempatan itu, dia mengucapkan rasa bangga atas konsistensi masyarakat dalam mempertahankan tradisi, adat dan budaya KLU. 

"Sebagai upaya menjaga warisan dan tradisi yang ditinggalkan para leluhur,” tuturnya.

Dia berharap agar tradisi tersebut terus dipertahankan.

Dia menyampaikan, ritual ini sebagai ekspresi atas rasa syukur kepada Tuhan atas karunia yang sudah diberikan berupa hasil tanaman sawah dan kebun yang cukup bagus.

”Setiap tahun tempat ini dijadikan lokasi acara-acara penting,tentunya harapan masyarakat yang agar lokasi ini lebih baik sehingga kegiatan ritual adat dapat lebih meriah dan nyaman,” tutup Kusmalahadi

Editor : Pujo Nugroho
#perang Topat di Lombok Utara #perang Topat dusun lenek #lestarikan budaya #Kusmalahadi Syamsuri #Wabup KLU