Melalui program ini, personel Polairud diarahkan untuk tampil lebih humanis dan proaktif membantu masyarakat, bukan sekadar melakukan penindakan hukum.
Kasat Polairud Polres KLU AKP I Gusti Made Suarjaya, menjelaskan bahwa pendekatan baru ini merupakan tindak lanjut dari arahan pimpinan tertinggi Polri, yakni Kabaharkam melalui Kakorpolairud.
“Sesuai arahan pimpinan, anggota Polairud di lapangan harus lebih aktif hadir secara humanis. Kami mengubah paradigma lama menjadi konsep Polisi Penolong,” tegas AKP Gusti, Selasa (14/10).
Salah satu perubahan paling nyata terlihat dalam cara penanganan gangguan Kamtibmas ringan, seperti penertiban pemuda yang mengonsumsi minuman keras di area publik.
Jika sebelumnya pendekatan bersifat represif, kini Polairud memilih teguran persuasif dan edukatif.
“Kami tidak lagi mengedepankan tindakan keras. Para pemuda kami dekati secara dialogis, kami ajak berbicara, dan kami berikan pemahaman tentang bahaya miras, terutama di wilayah pesisir yang rawan,” jelasnya.
AKP Gusti menilai, pendekatan humanis terbukti lebih efektif dalam menumbuhkan kesadaran serta memperkuat hubungan antara polisi dan masyarakat.
Setiap kegiatan dalam program “Polisi Penolong” juga dilaporkan secara rutin dan menjadi bahan analisis serta evaluasi oleh pimpinan.
“Semua kegiatan ini akan kami laporkan dan di-Anev. Hasilnya nanti juga akan kami tampilkan dalam Rakernis Baharkam Polri akhir Oktober. Ini komitmen kami menjadikan Polairud sebagai sahabat masyarakat pesisir,” ungkapnya.
Langkah inovatif Sat Polairud Polres Lombok Utara ini diharapkan menjadi contoh nasional dalam mewujudkan citra Polri yang melayani, melindungi, dan mengayomi masyarakat dengan sepenuh hati.
Editor : Siti Aeny Maryam