Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

TP PKK Lombok Utara Fokus Minimalisir Perundungan di Lingkungan Pendidikan

Habibul Adnan • Minggu, 15 Februari 2026 | 21:39 WIB

Hj Rohani Najmul Akhyar
Hj Rohani Najmul Akhyar
LombokPost – Salah satu fokus dalam program kerja TP PKK Kabupaten Lombok Utara (KLU) adalah meminimalisir kasus perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan.

Ada beberapa upaya konkret yang dilakukan dalam pencegahan kasus ini

Ketua TP PKK KLU Hj Rohani Najmul Akhyar menyebutkan, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menggelar kegiatan-kegiatan sosialisasi.

Dalam berbagai kesempatan, dia mengaku selalu menyampaikan, bahwa setiap kasus bullying harus dipandang sebagai persoalan bersama, bukan tanggung jawab pihak sekolah.

Menurutnya, dampak perundungan tidak bisa dianggap sepele.

Trauma yang dialami anak dapat memengaruhi perkembangan mental dan rasa percaya diri dalam jangka panjang.

“Kalau sampai ada anak yang menjadi korban perundungan trauma dan tidak mau sekolah lagi, ini sudah fatal dampaknya,” ujarnya.

Hj Rohani mengajak para guru dan orang tua untuk terus menanamkan nilai kebersamaan, kasih sayang, serta sikap saling menghargai di antara anak-anak.

Lingkungan sekolah, tegasnya, harus menjadi ruang aman dan nyaman bagi peserta didik, bukan tempat yang menimbulkan rasa takut.

Dia juga menyoroti pentingnya peran instansi terkait. Seperti Dinas Sosial yang memiliki kapasitas dalam memperkuat kapasitas para konselor.

Ia mendorong peningkatan pelatihan serta penyediaan materi pendampingan.

Dengan begitu, pencegahan bullying bisa dilakukan lebih masif, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat.

“Para konselor harus dibekali lebih banyak kemampuan dan bahan edukasi. Pencegahan tidak cukup hanya imbauan, tapi harus ada pendampingan yang nyata,” tegasnya.

Selain itu, ia mengingatkan para guru untuk memberikan perhatian secara adil kepada seluruh siswa tanpa perlakuan berbeda.

Stigma seperti anak bodoh atau anak nakal dinilai justru memperburuk kondisi psikologis anak.

Karena pada dasarnya, kata Hj Rohani, tidak ada anak yang bodoh, tidak ada anak yang nakal. Semua anak berharga.

Yang berbeda hanya potensi dan waktunya untuk tumbuh. "Tugas kita memastikan mereka merasa dihargai,” katanya.

Ke depan, persoalan bullying diharapkan menjadi perhatian lintas sektor agar tidak lagi menimbulkan korban mental di kalangan pelajar.

Upaya pencegahan dinilai harus dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Editor : Kimda Farida
#Ketua TP PKK Kabupaten Lombok Utara #TP PKK Kabupaten Lombok Utara #perundungan di Lombok Utara #tp pkk klu