LombokPost - Daratan yang dahulu luas, kini perlahan hilang ditelan laut. Daratan yang dulunya puluhan meter, kini tinggal sekitar lima meter. Begitulah kondisi abrasi di Gili Meno.
Ombak masih datang silih berganti menyapu bibir Pantai Gili Meno. Bagi wisatawan, pemandangan itu terlihat indah.
Namun, bagi warga yang puluhan tahun tinggal di pulau kecil tersebut, setiap hempasan ombak menyimpan kekhawatiran.
Perubahan itu paling mudah dilihat dari jarak antara jalan lingkar Gili Meno dengan bibir pantai.
Jika dulu hamparan pasir masih terbentang puluhan meter, kini laut nyaris menyentuh badan jalan.
Pengusaha di Gili Meno, Frankie Xav Syukur, menjadi salah satu saksi bagaimana abrasi mengubah wajah pulau dari tahun ke tahun. Ia masih mengingat jelas kondisi pantai pada masa lalu.
Baca Juga: Demo Mahasiswa di Lombok Utara, Desak Evaluasi MBG hingga Soroti Tambak Udang
Dia mengaki, dulu jarak dari jalan sampai bibir pantai sekitar 30 meter. Sekarang sisa daratan tinggal sekitar lima meter akibat abrasi yang terus mengikis daratan.
Penyusutan garis pantai itu bukan sekadar menghilangkan hamparan pasir. Ancaman juga mulai mendekati jalan lingkar, fasilitas wisata, hingga aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor pariwisata.
Menurut Frankie, tanda-tanda abrasi sebenarnya sudah terlihat sejak beberapa tahun lalu.
Bersama sejumlah pihak, mereka bahkan telah berkoordinasi dengan ahli pantai untuk mengkaji penyebab sekaligus langkah penanganannya.
Saat ini memang telah dibangun pemecah ombak. Namun keberadaannya dinilai belum mampu melindungi seluruh wilayah Gili Meno. "Pemecah ombak baru ada di sisi timur," katanya.
Baca Juga: Progres Kantor Inspektorat KLU Capai 10 Persen
Sementara di bagian barat belum ada. Frankie berharap dibuat tanggul atau pemecah ombak secara menyeluruh agar seluruh garis pantai bisa terlindungi.
Cerita serupa disampaikan Suryatman. Ia mengenang masa ketika pantai Gili Meno masih begitu lapang sehingga berbagai kegiatan besar dapat digelar di tepi laut.
"Dulu daratannya sangat luas. Bahkan bisa dibuat panggung besar. Pernah ada konser yang diselenggarakan di sini," kenangnya.
Kini, ruang yang dahulu menjadi tempat berkumpul masyarakat dan wisatawan itu perlahan menghilang.
Ombak terus mengikis pasir sedikit demi sedikit, meninggalkan garis pantai yang semakin sempit setiap musim berganti.
Editor : Kimda Farida