LombokPost - Di tengah pesona pasir putih dan air laut yang jernih, warga serta pelaku usaha di Gili Meno, justru bergulat dengan persoalan yang tak kunjung usai. Mereka kesulitan memenuhi kebutuhan mendasar, yaitu air bersih.
Bagi wisatawan yang datang berlibur, Gili Meno mungkin terlihat seperti surga tropis yang tenang.
Namun di balik keindahan itu, setetes air bersih memiliki nilai yang sangat mahal.
Air bukan hanya sulit didapat, tetapi juga menjadi kebutuhan yang harus diperjuangkan setiap hari oleh masyarakat maupun pengusaha pariwisata.
Iya, beginilah kondisi kawasan wisata internasional tersebut. Masih bergelut dengan krisis air bersih.
Suryatman, salah seorang manajer di Villa Ora Resort, menggambarkan bagaimana beratnya memenuhi kebutuhan air bersih di pulau kecil tersebut.
Baca Juga: Petani di Lombok Utara Terima Alat Pengolahan Jagung
Untuk memenuhi kebutuhan operasional resort, pihaknya harus membeli air yang didatangkan dari daratan.
Dia mengatakan, di tempatnya bekerja, untuk satu tangki ukuran 5.000 liter yang dikirim dari daratan, harganya Rp 1,3 juta.
Dalam kondisi normal, air tersebut habis dalam jangka waktu tiga hari. "Tapi kalau tamu ramai bisa habis dalam dua hari saja," ujarnya.
Keterbatasan air membuat pihak resort menerapkan berbagai langkah penghematan.
Di setiap kamar, tamu diberikan imbauan untuk menggunakan air secara bijak. Bahkan para staf memilih mandi menggunakan air asin untuk mengurangi penggunaan air bersih.
Baca Juga: Gaji PPPK Paro Waktu KLU Dibayar Penuh Lewat APBD Perubahan
"Kita staf mandi pakai air asin. Air kolam di seluruh tempat usaha juga menggunakan air asin," katanya.
Masalahnya tidak berhenti pada harga yang mahal. Distribusi air dari daratan juga sangat bergantung pada kondisi cuaca dan gelombang laut.
Menurut Suryatman, saat cuaca buruk, kapal pengangkut air sering kali tidak dapat beroperasi. Akibatnya pasokan air menjadi tidak menentu.
"Air bukan hanya mahal, tapi juga susah didapat. Saat cuaca buruk, distribusi bisa terhenti. Kadang air datang pagi, kadang sore. Kalau seharian kondisi laut surut atau gelombang tidak memungkinkan, distribusi bisa berhenti," ungkapnya.
Kondisi serupa dirasakan warga setempat. Zaenur, warga Gili Meno, mengaku masyarakat sudah terbiasa menggunakan air laut untuk mandi karena keterbatasan air bersih yang tersedia.
Baca Juga: Pemda KLU Siapkan Wajah Baru di Perbatasan dengan Bangun Gapura di Wilayah Malaka
"Kebutuhan air bersih untuk minum dan ternak harus beli sendiri," katanya.
Menurutnya, air yang didistribusikan dari daratan pun tidak selalu layak untuk langsung dikonsumsi.
Karena itu, warga masih harus membeli air isi ulang untuk kebutuhan minum sehari-hari. "Jadi harus tetap beli air untuk dikonsumsi," imbuhnya.
Beban biaya semakin terasa bagi warga yang memiliki ternak. Zaenur mencontohkan kebutuhan air untuk kuda peliharaannya yang sangat besar setiap hari.
Untuk sekali pemberian minum, ternaknya membutuhkan sekitar tujuh galon air. Dalam sehari, pemberian minum dilakukan tiga kali.
Berarti sehari bisa sampai 21 galon hanya untuk minum kuda. "Kalau air bersih dipakai untuk mandi juga, tentu tidak akan mencukupi," katanya.
Situasi tersebut membuat masyarakat berharap pemerintah segera menghadirkan solusi jangka panjang.
Salah satu harapan terbesar warga adalah pembangunan jaringan pipa bawah laut yang menghubungkan Gili Meno dengan sumber air di daratan Lombok.
Menurutnya, opsi tersebut lebih menjanjikan dibandingkan ketergantungan pada distribusi air menggunakan kapal maupun pembangunan instalasi pengolahan air laut.
"Pemerintah jangan memaksakan penggunaan SWRO karena dikhawatirkan merusak ekosistem laut," tegas Zaenur.
Editor : Kimda Farida