LombokPost — Gangguan layanan air bersih di Gili Trawangan mulai berdampak terhadap aktivitas pariwisata. Para wisatawan dilaporkan memilih melakukan early check-out atau meninggalkan tempat menginap lebih awal.
Hal ini disebabkan karena kebutuhan air bersih tidak terpenuhi. Pasokan air bersih di kawasan wisata tersebut disebut berhenti total sejak Kamis (3/9) sekitar pukul 00.00 WITA.
Kondisi ini membuat sejumlah hotel dan akomodasi harus mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan dasar tamu.
Ketua Asosiasi Hotel Gili Trawangan Lalu Kusnawan mengatakan, gangguan tersebut telah memberikan dampak langsung terhadap pelaku usaha pariwisata.
“Sekitar 300 tamu sudah terdeteksi melakukan early check-out,” kata Kusnawan.
Menurut dia, kondisi paling terasa terjadi pada kebutuhan sanitasi hotel. Sejumlah pengelola akomodasi bahkan terpaksa memanfaatkan air kolam renang untuk memenuhi kebutuhan sanitasi.
Pelaku usaha, kata dia, juga berupaya mendatangkan air dari daratan Lombok.
Namun, langkah tersebut membutuhkan biaya tambahan dan belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan air di kawasan Gili Trawangan.
Baca Juga: Pemda KLU Mulai Antisipasi Kebakaran Rumah Adat
Kusnawan mempertanyakan tanggung jawab pemerintah terhadap kerugian yang harus ditanggung pelaku usaha akibat terhentinya layanan air bersih.
Sebab, persoalan tersebut tidak hanya menyangkut operasional hotel, tetapi juga berpotensi memengaruhi pengalaman wisatawan selama berada di Gili Trawangan.
“Kami mempertanyakan siapa yang bertanggung jawab terhadap kerugian yang dialami pelaku usaha dan dampak terhadap wisatawan,” ujarnya.
Dia menegaskan, pelaku usaha selama ini turut mengeluarkan biaya untuk mempromosikan Gili Trawangan sebagai salah satu destinasi wisata unggulan.
Karena itu, keberlangsungan layanan dasar seperti air bersih dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga citra destinasi.
Lalu Hendra, salah satu GM Hotel di Gili Trawangan mengatakan, kondisi kekurangan air masih terjadi hingga saat ini.
Baca Juga: BAZNAS KLU Himpun Donasi untuk Korban Gempa NTT dan Kebakaran Sade
Dia belum mengetahui kapan pasokan air akan normal kembali. "Sudah hampir lima hari kekurangan air," katanya.
Lalu Hendra sangat menyayangkan kondisi tersebut. Sebab, hal ini berdampak langsung terhadap aktivitas pariwisata di Gili Trawangan. "Ini lucu, destinasi unggulan tapi nggak ada air bersih," imbuhnya.
Sementara itu, dari pengumuman resmi Perumda Air Minum Amerta Dayan Gunung menyampaikan, bahwa gangguan layanan air bersih terjadi akibat penyesuaian operasional transisional seawater reverse osmosis (SWRO).
Di mana sistem tersebut masih dalam proses penyelesaian teknis, perizinan, serta pengendalian lingkungan.
Baca Juga: Kakao Ijo Kajuman dari KLU Menuju Pentas Nasional
"Kami mohon maaf, layanan air bersih di Gili Trawangan saat ini mengalami gangguan serius akibat penyesuaian operasional transisional SWRO," tulis dalam pengumuman itu.
Kondisi tersebut menyebabkan pelayanan air bersih di Gili Trawangan belum dapat berjalan secara normal.
Perumda, Pemda, PT TCN, dan sejumlah instansi terkait kini menyiapkan langkah darurat untuk menjaga pemenuhan kebutuhan dasar air bersih.
Editor : Kimda Farida